Membumikan Literasi Media, Menjawab Tantangan Media Kini

Oleh: Nuril Ashivah Misbah*

You are able to build the life that you want rather than letting
the media build the life they want for you.
—W. James Potter—

Wacana buruknya kualitas content media massa dan dampak negatif yang ditimbulkan bukanlah hal yang baru bergulir. Wacana ini telah menjadi perbincangan yang tak ada habisnya baik di kalangan akademisi, pemerhati media, dan masyarakat. Gugatan terhadap media massa akan kondisi seperti ini pada akhirnya disadari bukan hal terbaik yang dapat menjanjikan perubahan. Terutama dengan menguatnya cengkraman kapitalisme dalam tubuh institusi media.

Dalam perspektif kritis ekonomi politik, media merupakan wadah di mana terjadi tarik-menarik antara kepentingan ekonomi (pemilik modal) dan politik (permainan kekuasaan). Golding dan Murdock (1992: 18) melihat bahwa produk media merupakan hasil konstruksi yang disesuaikan dengan dinamika ekonomi yang sedang berlangsung dan struktur-sturktur dalam institusi yang menyokong berputarnya roda institusi media. Mereka mencontohkan berita, menurut mereka berita yang disajikan pada masyarakat disusun berdasarkan relasi-relasi yang ada antara pemilik insitusi pers, editor, jurnalis, dan sumber berita. Jadi dalam pandangan kritis ekonomi politik, setiap produk berita tidak pernah bebas dari kepentingan ekonomi dan kekuasaan pemilik serta struktur-stuktur yang ada. Dengan kata lain, produk media akan selalu bias.

Menarik perspektif kritis ekonomi politik ini pada buruknya content media yang ditawarkan saat ini, bisa membawa pada pemikiran dan asumsi bahwa produk media dibuat dan diproduksi hanya untuk mendulang profit ( keuntungan ) dan sebagai pengejawantahan dari kekuasaannya. Sedangkan kebutuhan masyarakat akan tayangan yang “sehat” serta pemenuhan fungsi media akan fungsi edukasi menjadi hal yang ter-nomer sekian-kan. Maka menjadi sedikit musykil untuk menunggu perubahan dari pihak media.

Sejalan dengan kondisi seperti ini, maka dibutuhkan sebuah pendidikan media sebagai uapaya untuk meng-counter content media. Tulisan ini akan mengungkap hal itu. Secara lebih khusus tulisan ini akan mengedepankan literasi media sebagai salah satu alternatif pendidikan media kontemporer. Akan disajikan konsep-konsep mendasar literasi media dan pentingnya literasi media serta beberapa model yang dapat digunakan dalam memperkenalkan literasi media.  Dan pada akhirnya, bahasan ini juga akan menyajikan peluang gerakan literasi media di Indonesia.

Produksi dan Produk Media Massa

Produk media tidak pernah dapat dilepaskan dari proses produksinya. Proses produksi dan produk media (teks media) selalu berada pada satu garis lurus di mana kepentingan-kepentingan dalam institusi media bertarung dan beradu di dalamnya. Tentunya, kepentingan-kepentingan yang beradu dalam suatu institusi media akan sangat mempengaruhi pada setiap tahap pembuatan sebuah teks media. Mulai dari konsep produk, isu dan ideologi yang diangkat, genre, produksi, hingga pada pemilihan jam tayang siaran pada media penyiaran atau halaman pada media cetak. Dan yang terpenting dalam produksi teks media adalah pemilihan simbol atau tanda atau kode yang digunakan sebagai representasi dari kepentingan-kepentingan (ekonomi dan politik) serta ideologi-ideologi lainnya. Karena penggunaan simbol-simbol/kode-kode inilah maka teks media sendiri merupakan arena pertarungan makna.

Tulisan ini akan coba memotret media melalui perspektif kritis ekonomi politik yang secara sederhana berasumsi bahwa setiap kegiatan media selalu bertumpu pada aktivitas ekonomi dan politik, yaitu pada keuntungan dan kekuasaan. Critical political economy is interested in the interplay between economic organization and political, social and cultural life (Golding dan Murdock, 1992: 18). Aktivitas ekonomi dan politik ini yang kemudian mendominasi keseluruhan aspek dalam institusi media, menyetir ke mana arah media berjalan. Sehingga output media pun bertujuan untuk memenuhi kerangka pikir ekonomi dan politik insitusi, yaitu sebagai peraup keuntungan atau sebagai alat politik.

Dengan lebih tegas, Golding dan Murdock menyebutkan bahwa kepentingan-kepentingan ekonomi dan politik biasanya datang dari pemilik media as a instrument of class domination dan sistem pasar yang digerakkan oleh paham kapitalisme. Sepaham dengan Golding dan Murdock, Mosco (2009:134) bahkan menyebutkan bahwa komunikasi sendiri merupakan arena potensial tempat terjadinya komodifikasi. Hal ini dikarenakan komunikasi merupakan komoditas yang sangat besar pengaruhnya karena yang terjadi bukan hanya komodifikasi untuk mendapatkan “surplus value”, tapi juga karena pesan yang disampaikan mengandung simbol dan citra yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan komodifikasi.

Mosco menyebutkan ada tiga bentuk komodifikasi dalam komunikasi (2009: 135-139), yaitu (1) komodifikasi konten, dimana pesan (teks media) diproduksi dengan menggunakan simbol-simbol sebagai arena representasi hingga mewujud dalam bentuk produk yang dapat dipasarkan; (2) komodifikasi audiens, dimana audiens dijadikan komoditas yang “dijual“ kepada para pengiklan; (3) komodifikasi pekerja, dimana keahlian dan jam kerja para pekerja dijadikan komoditas dan dihargai dengan gaji.

Kepentingan ekonomi (komodifikasi) seperti ini dapat terlihat dari penggunaan ‘rating’ sebagai satu-satunya tolok ukur dalam melihat keberhasilan sebuah program dalam industri pertelevisian. Rating menjadi alat untuk menilai content (teks/produk media) apakah ia layak dijual. Kelayakan ini ditandai dengan seberapa banyak pemasang iklan yang mampu ditarik dalam setiap penayangan program tertentu. Selain itu, rating juga menjadi data dalam mengkomodifikasi audiens. Data audiens yang terangkum dalam rating menjadi pijakan bagi para pemasang iklan untuk memasarkan produknya di program tayangan tertentu atau tidak.

Rating pun menjadi suatu tuntutan yang harus dicapai dalam setiap produksi teks media. Maka para pekerja media televisi beramai-ramai mengejar rating dan kerap mengesampingkan kualitas program serta tak lagi memperhatikan program seperti apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh audiens. Karena keberhasilan suatu tayangan didasarkan pada logika rating, maka keberhasilan kerja para pekerja pun ditentukan oleh rating yang diperoleh oleh tayangan yang diproduksinya.

Konsentrasi yang diberikan pada pendapatan iklan ini, tidak dipungkiri memiliki sumbangan besar pada lahirnya produk-produk media yang tidak berkualitas. Kualitas produk media menjadi perhatian kesekian, asalkan iklan tetap berdatangan. Tak peduli kualitas output media yang semakin menurun serta apa yang sebenarnya diinginkan audiens, program yang memperoleh iklan tinggi tetap dianggap layak untuk terus dipertahankan. Kerangka pikir ekonomis yang masuk dalam kerja media memang tidak sedikit dampaknya pada output media. Perolehan rating dan iklan yang berarti perolehan keuntungan bagi perusahaan media menjadi orientasi dari perputaran roda institusi media. Tak pelak, untuk mencapai hal tersebut ragam tayangan yang disajikan menjadi penuh dengan hal-hal mistis, kekerasan, sensualitas, seksualitas, pertengkaran, perkelahian, dan dramatisasi.

Reality Show: Sebuah Pengejawantahan Media Economic Oriented

Dari sekian banyak ragam program tayangan yang “bertebaran” di televisi, bisa kita temukan satu ragam program berupa reality show yang memiliki karakter khas. Reality show adalah program yang menyajikan kehidupan nyata (real life) dan sehari‐hari dari masyarakat biasa yang juga diperankan langsung oleh mereka (bukan aktris/aktor profesional). Hill (2005) mendefinisikan reality show sebagai “a genre of television programming that presents purportedly unscripted dramatic or humorous situations, documents actual events, and usually features ordinary people instead of professional actors, sometimes in a contest or other situation where a prize is awarded”. Di sinilah letak perbedaan reality show dengan program lainnya. Karakter reality show ini menjadikannya sebagai salah satu alternatif pilihan bagi pemirsa.

Dan karenanya dalam 10 tahun terakhir ini tayangan reality show begitu merebak di televisi Indonesia dengan berbagai varian tema, seperti pencarian bakat (Indonesian Idol, Indonesia Mencari Bakat, Mama Mia), cinta dan seputar rumah tangga (Masihkah Kau Mencintaiku, Cari Jodoh, Take Him/Me Out), charity (Bedah Rumah, Tolong!, Barang Bekas), pencarian orang hilang (Termehek‐mehek), games (Happy Family), traveling dan kuliner (Etnic Runaway, Benu Bolu) dan semacam pengabdian atau menyelami kehidupan orang lain (Andai Aku Menjadi, Pengabdian).

Maraknya program reality show di televisi secara tidak langsung menunjukkan minat pemirsa yang tinggi terhadap program bergenre reality show. Kedekatan (proximity) yang dirasakan pemirsa dengan program reality show yang diperankan oleh “orang biasa” bisa jadi merupakan salah satu hal yang membuat pemirsa tertarik pada program reality show. Dan karakter reality show yang diklaim oleh pihak televise sebagai program non-fiksi, mudah membuat penonton merasa dekat dan merasa bahwa benar itulah yang terjadi. Akibatnya penonton menjadi mudah percaya pada apa yang ditontonnya.

Bekti Nugroho, salah satu anggota Dewan Pers, menyatakan bahwa reality show membuat penonton menjadi bingung dengan yang benar dan yang salah.[1] Pasalnya, beberapa program reality show menghadirkan tayangan yang cenderung mendramatisasi dan eksploitatif, seperti reality show yang mengangkat tema kemiskinan, maka kemiskinan akan dieksploitasi sedemikian rupa. Pada tahun 2009, KPI menegur empat program reality show karena alasan tersebut. Namun menggantungkan harapan pada pihak media tentu saja bukan hal yang bijak. Sebab pemasukan yang diperoleh melalui tayangan reality show terbilang besar dan tentu sulit bagi pihak media untuk mengubah format reality show. Sehingga yang perlu dilakukan adalah penguatan audiens (penonton) melalui sebuah upaya memahami media dengan lebih baik, yaitu literasi media.

Literasi Media: Sebuah Upaya untuk Lebih Memahami Media

Literasi media merupakan istilah lain dari melek media. Secara sederhana, literasi media adalah kemampuan untuk menyaring, memilah, dan memilih pesan-pesan yang terdapat dalam media massa, baik cetak maupun elektronik. Jane Tallim mendefinisikan literasi media sebagai “the ability to sift through and analyze the messages that inform, entertain and sell to us every day. It’s the ability to bring critical thinking skills to bear on all media”.[2] Dari definisi yang diberikan, Tallim memberikan satu kunci dalam literasi media, yaitu berpikir kritis atas semua content media. Selanjutnya Tallim menyebutkan bahwa berpikir kritis dapat diimplementasikan melalui pertanyaan-pertanyaan seperti untuk siapa pesan dalam media diperuntukkan, siapa target audiens dari pesan tersebut dan mengapa, dari perspektif siapa pesan tersebut disampaikan, menyuarakan siapa pesan itu, dan lebih dalam lagi kepentingan, ideologi, dan nilai-nilai yang melatarbelakangi pesan (teks media) itu.

National Association for Media Literacy Education (NAMLE) melihat literasi media sebagai serangkaian kompetensi komunikasi, yang di dalamnya terdapat kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan mengkomunikasikan informasi dalam beragam bentuk, termasuk pesan dalam media cetak dan non cetak.[3] Dari definisi NAMLE tersebut terlihat ada empat kompetensi yang harus dipenuhi untuk disebut sebagai literasi media. Pertama, memiliki kemampuan untuk mengakses pesan. Syarat ini tentu saja merupakan hal mendasar yang harus dipenuhi. Dengan kata lain, literasi media tidak dibutuhkan bila tidak ada satu pun media yang diakses. Kedua, kemampuan untuk menganalisis pesan dalam media secara kritis, lalu mengevaluasinya, dan terakhir mengkomunikasikan hasil penilaian terhadap pesan tersebut.

Kemampuan akan literasi media sangatlah penting, khususnya pada zaman informasi seperti saat ini atau yang disebut dengan mediated environment”. Pertama, dengan mempelajari literasi media masyarakat menjadi audiens yang aktif. Kedua, masyrakat akan menjadi lebih sadar (aware) dan kritis atas apa yang tersaji dalam media.[4] Ketiga, literasi media akan mengajarkan orang agar mampu menggunakan media sesuai dengan manfaat yang ingin didapatkan. Dan keempat, untuk masa depan generasi yang akan datang agar siap untuk hidup dalam lingkungan media seperti sekarang. Empat hal tersebut cukup menjadi alasan yang kuat mengapa literasi media menjadi penting untuk dipelajari.

Konsep paling mendasar literasi media sebenarnya adalah “membaca” media dengan lebih kritis. Keterampilan atau kemampuan untuk “membaca” media ini tidak dapat muncul begitu saja, tapi melalui latihan yang terus dikembangkan. Untuk lebih memahami literasi media, John Pungente, seorang pakar pendidikan media dan Ketua CAMEO (Canadian Association of Media Education Organizations), memperkenalkan delapan konsep kunci literasi media, yaitu:[5]

  1. Semua media merupakan hasil konstruksi (all media are constructions); ini adalah konsep dasar yang perlu ditekankan, bahwa tidak ada satu media pun yang benar-benar merefleksikan realitas yang sebenarnya. Apa yang ada dalam media merupakan hasil konstruksi, dan literasi media adalah sebuah upaya untuk mendekonstruksi konstruksi tersebut.
  2. Media mengkonstruksi realitas (the media construct reality); bahwa hampir mayoritas pemahaman kita mengenai apa yang sedang berlangsung di sekitar kita adalah hasil dari konstruksi media. Isu apa yang diangkat oleh media, maka itulah yang menjadi perhatian dan hal penting yang perlu disoroti saat itu. Dan bahkan pandangan kita mengenai satu peristiwa akan sangat dipengaruhi oleh bagaimana media memotret peristiwa tersebut, di mana kepentingan media terangkum di dalamnya.
  3. Audiens dapat menegosiasikan makna (audiences negotiate meaning in media); meskipun pemahaman masyarakat sangat teragantung pada apa yang dipotret dan disajikan media, namun masyarakat juga memiliki kemandirian untuk menegosiasikan makna dari pesan di media berdasarkan pada faktor individu, seperti kebutuhan pribadi, latar belakang keluarga dan kebudayaan, pendirian moral, dan sebagainya. Dengan kata lain, pemaknaan sangat tergantung pada faktor individu dan bersifat personal.
  4. Pesan dalam media memiliki implikasi komersial (media messages have commercial implications); media dan produk yang dihasilkan sangat dipengaruhi oleh pertimbangan-pertimbangan komersil (ekonomi), dan literasi media mencoba untuk membangun kesadaran akan hal itu. Sehingga tercipta sebuah kontrol atas apa yang ditonton, dibaca, dan didengar melalui media.
  5. Pesan dalam media mengandung unsur-unsur ideologi dan nilai (media messages contain ideological and value messages); semua produk media selalu merepresentasikan nilai-nilai dan way of lifes. Baik secara eksplisit maupun implisit, media selalu menghadirkan pesan-pesan ideologis yang berbalut isu seperti gaya hidup yang baik, kebaikan dalam konsumerisme, peran perempuan, dan sebagainya.
  6. Pesan dalam media mengandung implikasi sosial dan politik (media messages contain social and political implications); media memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap proses politik yang sedang berlangsung dan membentuk perubahan sosial. Lihat saja bagaimana peran media dalam pemilihan umum yang berdampak pada kepemimpinan nasional dan penggiringan isu-isu politik seperti HAM, gerakan kaum feminis, atau wabah AIDS.
  7. Bentuk dan isi pesan media sangat tergantung pada media itu sendiri (form and content are closely related in media messages); setiap media memiliki cara masing-masing dalam mengemas sebuah peristiwa, sesuai dengan karakter dan agenda yang dibawa media tersebut. Sebuah peristiwa yang dilaporkan bisa saja sama, tapi dapat menimbulkan kesan yang berbeda bagi audiens.
  8. Setiap media memiliki keunikan tersendiri dalam hal estetika (each medium has a unique aesthetic form); setiap media memilki karakter yang berbeda satu dengan yang lainnya. Televisi mimiliki karakter audio visual, dan ini berbeda dengan radio yang memiliki karakter audio saja. Perbedaan ini pada akhirnya akan menghasilkan nilai estetis yang berbeda antar media.

Delapan konsep kunci ini membantu untuk membangun kesadaran bahwa media tidak pernah netral, selalu ada kepentingan, unsur kepemilikan, ideologi institusi, dan tendensi komersial yang terangkum dalam sebuah produk media. Kesadaran seperti ini juga menunjukkan bahwa audiens memiliki otonominya sendiri dan memiliki power yang lebih besar dari media. Dan masyarakat harus memiliki sikap terhadap media sebelum media berbalik menyetir kehidupan masyarakat. Delapan konsep kunci tersebut menjadi awal dari perkembangan keterampilan literasi media.

Baran (2004: 56-57) mengungkapkan bahwa dalam literasi media, ada beberapa tingkatan keterampilan, yaitu:

  1. Kemampuan dan kehendak untuk berusaha memahami dan mengerti content media, memperhatikannya, dan menyaring hal-hal yang tidak layak.
  2. Mengerti dan respek terhadap kekuatan pesan dalam media.
  3. Kemampuan untuk membedakan antara reaksi emosional ketika mengkonsumsi pesan media dan dalam bertindak dengan menyesuaikan apa yang ada di media. Jadi, tidak serta-merta walaupun kita merasa terharu dengan apa yang ada di media, kita langsung bertindak serupa. Perlu diingat bahwa bagaimanapun pesan-pesan dalam media diperlukan sebuah sistem penyaringan.
  4. Terus berkembang dan bertambahnya ekspektasi terhadap content media.
  5. Memiliki pengetahuan tentang genre-genre tayangan yang sudah ada, dan kemampuan untuk mengenalinya ketika beberapa genre digabung menjadi satu program tayangan.
  6. Kemampuan untuk berpikir kritis atas pesan dalam media, tidak peduli meski sumber yang digunakan credible.
  7. Memiliki pengetahuan tentang karakter bahasa yang digunakan tiap-tiap media yang berbeda.

Ada banyak cara untuk mengasah keterampilan akan literasi media. Selain tingkat keterampilan yang disampaikan Baran di atas, mengutip Brunner & Tally (dalam Adiputra, 2006: 142), keterampilan literasi media dapat diaplikasikan melalui pertanyaan-pertanyaan kritis yang secara lengkap terangkum dalam tabel di bawah ini:

Aspek

Pertanyaan

Apa

Apa ide utama pesan media tersebut?Bagaimana obyek direpresentasikan?Bagaimana argument disusun?

Siapa

Apa sudut pandang yang diambil?Apa yang diharapkan produsen pesan pada audiens?

Pembuktian

Fakta atau informasi apa saja yang digunakan untuk mendukung argumen atau ide?Seberapa relevan atau sesuai informasi tersebut?

Style dan format

Bagaimana bentuk representasi yang ada? Termasuk dalam genre apa?Bagaimana pesan disampaikan? Melalui kata-kata, imaji, atau suara?

Audiens

Siapa audiens yang dituju?Bagaimana kemungkinan audiens merespons?

Representasi

Siapa kelompok atau subyek yang direpresentasikan, dan bagaimana?Apakah penggambaran kelompok atau subyek tersebut akurat, berlebihan, atau bias?

 

Membumikan Literasi Media

Pada masa di mana media telah masuk ke dalam seluruh sendi-sendi masyarakat, baik secara sosial dan kultural, hegemoni dan dominasi media menjadi hal yang tidak terelakkan. Untuk itu penting adanya sebuah pembacaan kritis atas media, itulah literasi media. Potter (2001: 3) membagi literasi media menjadi reading literacy, visual literacy, dan computer literacy. Dan kemampuan literasi media dapat diaplikasikan pada tiga jenis media tersebut, cetak (surat kabar, buku, majalah, dan tabloid) dan elektronik (televisi, radio, komputer, dan film).

Menjadi literated akan media (melek media) sangatlah penting mengingat perubahan zaman yang pesat sangat dipengaruhi oleh perkembangan media. Literasi media membantu untuk memberikan perspektif yang jelas atas batas antara dunia yang nyata (real world) dan dunia yang dibuat oleh media (media reality). Dan dengan menjadi melek media atau literate akan media, maka seseorang akan memiliki pemetaan yang jelas atas teks-teks dan pesan-pesan yang terdapat dalam media, sehingga itu akan membantunya untuk mendapatkan informasi yang diinginkan tanpa harus kebingungan.

Berdasarkan hal tersebut, maka literasi media seyogyanya tidaklah hanya menjadi sebuah wacana yang secara aktif dibahas dalam kerangka akademis. Melainkan menjadi sebuah agenda yang disebarluaskan pada masyarakat secara masif dan sporadik. Mengingat literasi media merupakan sekumpulan pengetahuan atau struktur pengetahuan (knowledge structures), maka terlebih dahulu yang harus dilakukan adalah mengembangkan struktur kemampuan yang mendasarinya. Untuk mengembangkan struktur kemampuan tersebut, dibutuhkan alat (tools) dan bahan dasar (raw material). Alatnya adalah kemampuan dasar itu sendiri sementara bahan dasarnya adalah informasi dari media dan dunia nyata yang kita miliki.

Potter (2001: 6) membagi struktur pengetahuan untuk membangun perspektif literasi media tersebut menjadi tiga kategori. Pertama, pengetahuan tentang isi/content media; kedua, pengetahuan tentang industri media; dan ketiga, pengetahuan tentang efek media. Tiga struktur pengetahuan ini dapat dikembangkan secara bergilir dan bertahap, namun tidak terpisah. Dalam artian bahwa pengetahuan tentang literasi media tidak dikembangkan secara terpisah seperti mempelajari visual literacy saja dan fokus pada struktur pengetahuan mengenai industri media. Namun literasi media dikembangkan sebagai sebuah rangkaian kesatuan pengetahuan di atas. Meminjam bahasa Potter, literacy media is a continuum, not a category.

Langkah paling awal untuk mengembangkan pengetahuan literasi media adalah memastikan bahwa masyarakat telah memiliki bahan dasarnya, yaitu informasi yang diakses dari media. Selanjutnya Potter (2001) menyatakan bahwa pengembangan literasi media dapat dilakukan melalui beragam strategi, yaitu:

  1. 1.   Personal strategy

Strategi yang pertama ini menggunakan pendekatan personal, yaitu pada pengembangan pengetahuan akan literasi media pada diri pribadi, tepatnya diri sendiri. Strategi ini menekankan pada keinginan dan kemauan kuat dari pribadi seseorang untuk terus mengembangkan pengetahuan dan kemampuan akan literasi media. Strategi personal dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu: mengembangkan kesadaran yang tepat atas terpaan media (media exposure), terus mempraktekkan keterampilan literasi media sebagai kewaspadaan atas terpaan media, mengerti pengetahuan dasar atas manfaat isi media, fokus pada perolehan manfaat dari isi media, membuat perbandingan antara satu media dengan yang lain, dan yang terpenting adalah mengubah prilaku ketika berhadapan dengan media.

  1. 2.   Interpersonal strategy

Strategi interpersonal lebih pada pendekatan antar individu dengan individu yang lain dalam sebuah hubungan untuk membantu penguatan keterampilan literasi media. Misalnya orang tua dan anak, orang tua membantu anak untuk memahami media secara kritis dengan perlahan-lahan. Strategi ini bisa dimulai dari aspek kognitif, kemudian pada tataran emosional, dan terakhir pada aspek prilaku.

  1. 3.   Societal strategy

Strategi sosial adalah strategi yang digunakan untuk mendorong kelompok sosial atau institusi seperti pemerintah dan LSM untuk turut serta dalam gerakan pengembangan kesadaran kritis publik atas media. Misalnya membawa permasalahan ini pada pemerintah dengan tujuan pembuatan regulasi atau membawa pada LSM untuk menjadi agen tetap diseminasi pengetahuan literasi media.

Tiga strategi ini dapat diaplikasikan dengan berbagai model, seperti penyuluhan, memasukkannya ke dalam kurikulum sekolah, menjadikan literasi media sebagai sebuah gerakan missal, dan sebagainya.

Literasi Media dan Reality Show

Membawa konsep literasi media pada kasus yang diangkat dalam tulisan ini, reality show, maka jelas bahwa literasi media digunakan sebagai dasar kritis untuk menilai tayangan reality show. Dengan memahami dan memiliki keterampilan literasi media, penonton akan menyadari kepentingan, nilai-nilai, ideology di balik tayangan reality show. Sehingga dalam memaknai tayangan, penonton tidak akan terjebak pada apa yang disodorkan produser media, dan mampu memaknainya secara berbeda dan melihat apa yang ada di balik tayangan tersebut.

Akhirnya, tidak perlu terjadi kebingungan pada diri penonton atas tayangan reality show karena mempermasalahkan kebenaran fakta yang diangkat dalam suatu tayangan. Dengan mengerti konsep literasi media, seluruh teks media yang sampai dan dikonsumsi oleh penonton diahami sebagai sebuah hasil konstruksi yang tidak pernah lepas dari proses representasi. Maka tidak peduli seberapa tinggi intensitas terpaan media terhadap masyarakat, menurunnya kualitas produk media, atau semakin dominannya kepentingan ekonomi politik dalam institusi media, selama masyarakat memahami literasi media dan menyadari pentingnya mengerti literasi media, masalah media dapat diminimalisir dengan maksimal.****


[3] ….media literacy is seen to consist of a series of communication competencies, including the ability to ACCESS, ANALYZE, EVALUATE, and COMMUNICATE information in a variety of forms, including print and non-print messages. Diakses dari situs National Association for Media Literacy Education di http://www.namle.net/media-literacy/definitions

[4] Mengacu pada apa yang ditulis oleh Pat Kipping, “Media literate people use the mediafor their own advantage and enjoyment”, dalam Why Teach Media Literacy, di http://www.media-awarness.ca/english/teachers/media_literacy/why_teach_media_liter.cfm

[5] John Pungente, Key Concepts of Media Literacy, dalam situs Center for Media Literacy di http://www.medialit.org/reading_room/article210.html

*Penulis adalah mahasiswa S2 Kajian Budaya dan Media Pascasarjana UGM. Beberapa kali terlibat dalam diskusi dan riset PKMBP.

Tentang Kajian media dan budaya populer

Pusat Kajian Media dan Budaya Populer (PKMBP) adalah sebuah lembaga yang concern dalam kajian media massa serta budaya pop. Kegiatan utama kami antara lain riset, diskusi, dan penerbitan buku.
Pos ini dipublikasikan di Kajian Media dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s