Tinjauan Buku: Teori Budaya

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Judul Buku                  : Teori Budaya

Penulis                         : David Kaplan dan Robert A. Manners

Penerbit                       : Pustaka Pelajar (edisi terjemahan), cetakan III 2003

Reviewer                     : Puji Rianto

Ada banyak bukti yang semakin nyata bahwa studi-studi mengenai budaya mulai menarik dan tidak lagi menjadi “domain” khusus para antropolog. Dalam kajian media dan komunikasi, muncul berbagai sudut pendekatan baru yang berusaha meletakkan budaya sebagai suatu perspektif untuk memahami media dan komunikasi. Douglas Kellner (2010), misalnya, membahas berbagai soal yang ia lekatkan dalam budaya media. Budaya media ini terdiri atas sistem radio dan reproduksi suara (album, kaset, CD, dan alat persebaran mereka seperti radio, kaset perekam, dan seterusnya); dari film dan bentuk-bentuk penyebarannya (pementasan bioskop, persewaan kaset video, tayangan tv); media cetak yang meliputi koran dan majalah; hingga sistem televisi yang berdiri di pusat budaya media (Kellner, 2010: 1). Di aras yang lain, muncul suatu perspektif baru dalam memahami komunikasi-yang meskipun tampaknya merupakan pendekatan yang lebih bersifat pragmatis, yakni komunikasi antarbudaya dan multicultural pubic relations.

Studi budaya menjadi semakin diminati bersamaan munculnya cultural studies. Seperti dikemukakan Thwaites, Davis, dan Mules (2009: 1), “Jika memang jelas bahwa cultural studies melibatkan pengkajian budaya, maka perkara yang berangkali begitu jelas justru apakah budaya itu?” Thwaites, Davis, dan Mules lantas mendefinisikan budaya sebagai kumpulan praktik sosial yang melaluinya makna diproduksi, disirkulasikan, dan dipertukarkan (ibid). Oleh karenanya, budaya dalam cultural studies lebih dipahami sebagai situs produksi makna, bukan ekspresi makna yang ada di tempat lain (Thwaites, Davis, dan Mules, 2009: 2). Menurut Thwaites, Davis, dan Mules, makna ini muncul di dalam dan melalui relasi sosial, relasi diantara orang-orang, kelompok, kelas, institusi, struktur dan benda. Kemudian, oleh karena makna itu diproduksi, disirkulasi, dan dipertukarkan dalam dunia sosial maka makna tidak pernah tetap sepenuhnya.

Kemunculan budaya baik sebagai objek kajian ataupun perspektif tak pelak membuatnya menjadi topik kajian yang semakin luas diterima dan dipelajari. Setidaknya, meskipun budaya masyarakat tetap menjadi fokus kajian antropologi yang penting, tapi perkembangan berikutnya menampakkan wujud yang lebih luas tentang minat orang tentang budaya. Berbagai faktor bisa diidentifikasi sebagai penyebab hal itu, diantaranya adalah perkembangan ekonomi politik dan intelektual. Dari sisi ekonomi politik, globalisasi dunia tampaknya menjadi salah satu pendorong bagi usaha untuk memahami perbedaan-perbedaan budaya yang ada untuk tujuan-tujuan tertentu yang spesifik. Orang-orang komunikasi, public relations, dan orang-orang bisnis belajar budaya demi memperlancar usaha mereka. Di sisi lain, studi budaya menjadi penting guna mendorong “pemahaman” yang lebih luas sebagai akibat pertemuan-pertemuan budaya diantara kelompok-kelompok budaya yang berbeda. Pertemuan tersebut sering kali berbenturan, yang membuat relasi diantara kelompok-kelompok menjadi tidak nyaman bahkan konfliktual. Mobilitas penduduk yang semakin masif sebagai akibat semakin rendahnya biaya transportasi membuat “pertemuan-pertemuan” antarkelompok dalam masyarakat itu dalam suatu negara maupun antarnegara menjadi semakin sering terjadi. Oleh karenanya, studi antarbudaya diorientasikan satu diantaranya untuk memahami budaya-budaya yang berbeda tersebut untuk akhirnya menuju ke arah hubungan yang saling menghormati satu dengan yang lain. Studi budaya juga menjadi sedemikian menarik dan-pada tataran tertentu-“menghebohkan” sebagai akibat kemunculan cultural studies. Suatu gerakan politik dan sekaligus-dalam pemahaman saya-perkembangan akademik yang membuat studi budaya menjadi semakin luas diterima. Dalam situasi semacam itu, kebutuhan akan perspektif teoritis akan menjadi demikian penting. Oleh karenanya, menjadi tidak mengherankan jika buku Kaplan dan Manners –untuk edisi terjemahan-telah mengalami cetak sebanyak 3 kali sejak pertama kali edisi terjemahan itu tahun 1999. Meskipun Kaplan dan Manners tidak menulis buku ini guna menjawab situasi itu, tapi membaca buku Teori Budaya dalam situasi dan konteks semacam itu jelas akan jauh lebih menarik.

Tinjauan Umum Isi Buku
Buku Teori Budaya yang ditulis oleh David Kaplan dan Robert A. Manners ini dibagi ke dalam lima bab. Penulisan setiap bab disusun berdasarkan rangkaian bab yang runtut sehingga akan menjadi sulit jika pembacaan buku ini dilakukan secara melompat-lompat. Ini karena selain pembahasan setiap materi dilakukan secara berjenjang, tidak jarang Kaplan dan Manners merujuk pembahasan sebelumnya untuk suatu konsep khusus dalam bab berikutnya. Hal ini mendorong pembaca untuk mau tidak mau membuka kembali halaman-halaman sebelumnya.

Pada bab pertama, Kaplan dan Manners membahas metode dan pokok-pokok soal penyusunan teori dalam antropologi. Menurut Kaplan dan Manners (2003: 2), pokok-pokok soal yang diperhatikan antropolog dapat diringkas menjadi dua pertanyaan besar, yang saling terkait satu dengan yang lain, yakni (1) bagaimanakah bekerjanya berbagai sistem budaya yang berbeda-beda?; dan (2) bagaimanakah sistem-sistem budaya yang beraneka ragam itu menjadi seperti keadaannya kini? Seperti dijelaskan Kaplan dan Manners, kedua pertanyaan atau pokok soal ini pada dasarnya hendak mengupas persamaan dan perbedaan diantara budaya-budaya yang ada sekarang ini. Upaya untuk menjelaskan persamaan dan perbedaan ini kemudian berujung pada perbedaan-perbedaan orientasi teoritik dan kerangka metodologi yang dijelaskan Kaplan dan Manners dalam bab-bab berikutnya. Seperti dikemukakan Kaplan dan Manners (hal. 3), “Masalah utama dalam antropologi adalah menjelaskan kesamaan dan perbedaan budaya, pemeliharaan budaya maupun perubahannya dari masa ke masa”. Hanya dengan mempelajari mekanisme, struktur, dan sarana-sarana di luar diri manusia-yakni alat yang digunakan manusia untuk mentransformasikan dirinya sendiri-menurut Kaplan dan Manners, dapat diketahui alasan perbedaan keyakinan, nilai, perilaku, dan bentuk sosial antara kelompok satu dengan kelompok lainnya.

Seperti dapat dilihat dalam kenyataan budaya manusia, masing-masing masyarakat mempunyai budayanya sendiri-sendiri yang seringkali unik. Jika budaya kita definisikan sebagai-secara sederhana-cara berfikir dan bertindak, maka hampir setiap kelompok masyarakat mempunyai perbedaan-perbedaan dalam hal itu disamping persamaan yang dimiliki. Pokok persoalannya adalah bagaimana para antropolog menjelaskan perbedaan-perbedaan itu. Menurut Kaplan dan Manners (hal 5-6), ada dua corak antropolog yang memandang perbedaan sebagai sesuatu yang ada begitu saja sebagai fenomen untuk dicatat, atau sebagai variasi-variasi dalam suatu tema besar yang bernama relativisme budaya. Kelompok kedua adalah antropolog yang melihat bahwa keragaman budaya tidak dipandang sebagai fenomen untuk sekedar dicatat, melainkan dipersoalkan juga alasan penjelasannya. Dengan kata lain, menurut Kaplan dan Manners, kelompok kedua ini menuntut adanya teori. Di sini, Kaplan dan Manners lantas membahas perbedaan-perbedaan dan juga persamaan antara relativisme dengan perbandingan.

Ulasan berikutnya dari Kaplan dan Manners pada bab ini adalah bagaimana teori-teori dirumuskan. Di sini, Kaplan dan Manners (hal. 15) mengemukakan bahwa sebuah teori harusnya mempunyai fungsi ganda, yakni menjelaskan fakta yang sudah diketahui dan kedua membuka celah pemandangan baru yang dapat mengantar kita menemukan fakta baru pula. Dalam antropologi, sebagaimana dijelaskan Kaplan dan Manners, teori bisa dibentuk dalam dua cara, yakni verstehen dan historisitas/kesejarahan.

Setelah membahas pokok soal dan pendefinisian teori, pada bab dua, Kaplan dan Manners mempertajam diskusi pada bab pertama dengan menjelaskan orientasi teoritik. Di sini, Kaplan dan Manners mengemukakan adanya empat pendekatan atau orientasi teoritik, yakni evolusionisme, fungsionalisme, sejarah, dan ekologi budaya. Di sini, Kaplan dan Manners tidak menggunakan istilah metodologi ataupun teori karena, menurutnya, keempatnya lebih dari sekedar metodologi formal, tapi belum merupakan teori yang utuh dan lengkap.

Pada bab dua, Kaplan dan Manners melakukan penjelajahan atas berbagai orientasi teoritik yang relatif kaya. Paparan dimulai dari orientasi teoritik evolusionisme abad kesembilan belas dengan mengutip beberapa karya buku yang ditulis oleh, misalnya, Robert A. Nisbet, Morgan dan Tylor, dan juga Idus Murphree. Kaplan dan Manners kemudian melangkah lebih jauh dengan membahas tokoh-tokoh dan pikiran mutakhir dari evolusionisme V. Gordon Childe, Leslie A. White, dan Julian Steward. Dari Childe, Kaplan dan Manners belajar bagaimana rekaman arkeologis menunjukkan bahwa keseluruhan pola perubahan bersifat evolutif dan progresif (hal. 59). Sementara dari White, Kaplan dan Manners belajar bagaimana budaya merupakan piranti adaptasi bagi manusia untuk berakomodasi terhadap alam dan mengadaptasikan alam padanya. Manusia, menurut White (Kaplan dan Manners, hal. 61), dapat mengadakan representasi simbolik tentang dunia bagi dirinya sendiri sehingga mampu mentransendensikan pengalaman indrawinya sendiri. Jika White seorang evolusionisme universsal dalam bahasa Steward, maka Steward melangkah ke dalam analisis yang lebih khusus dengan melihat kesamaan-kesamaan struktural (Kaplan dan Manners, hal. 64).

Orientasi teoritik berikutnya yang dibahas Kaplan dan Manners pada bab dua adalah fungsionalisme. Fungsionalisme sebagaimana dikemukakan Kaplan dan Manners sebagai perspektif teoritik dalam antropologi yang bertumpu pada analogi dengan organisme. Artinya, menurut Kaplan dan Manners, ia membawa kita memikirkan sistem sosial-budaya semacam organisme yang bagian-bagiannya tidak hanya saling berhubungan, tapi juga memberikan andil bagi pemeliharaan, stabilitas, dan kelestarian hidup “organisme” (hal. 77). Dengan kata lain, menurut Kaplan dan Manners, semua sistem budaya memiliki syarat-syarat fungsional tertentu untuk memungkinkan eksitensinya (hal. 77-78). Dalam menjelaskan fungsionalisme ini, Kaplan dan Manners merujuk beberapa pemikir sosial yang sudah sangat dikenal seperti Malinowski, Radcliffe-Brown dan juga Robert K. Merton.

Orientasi teoritik berikutnya yang dibahas Kaplan dan Manners adalah sejarah. Di sini, sebagaimana dijelaskan Kaplan dan Manners, barangkali, akan muncul banyak perdebatan mengenai orientasi teoritik ini. Meskipun demikian, Kaplan dan Manners memberikan penjalasan bahwa pada dasarnya karya sejarawan dan etnograf melaksanakan kerja metodologis yang sama (hal. 93). Dalam hal ini, Kaplan dan Manners mengemukakan, “Sebabnya, jika kita bedakan pengamatan kasar etnografi di lapangan dengan laporan yang kemudian ditulisnya berdasarkan amatan itu maka tampak jelas bahwa etnograf menempuh proses yang sangat mirip dengan proses yang ditempuh sejarawan”.

Persoalannya kemudian dimanakah perbedaan diantara keduanya? Kaplan dan Manners menjawab dengan mengemukakan bahwa perbedaan antara analisis historis dan geografis ialah terutama bersumber pada minat keduanya terhadap budaya-budaya tertentu yang dipandang sebagai sistem konkret dalam waktu dan ruang; perbedaan itu bukan karena keduanya tidak sama-sama mengarahkan minat pada masa lampau (hal. 94). Kemudian, untuk menjelaskan orientasi teoritik ketiga ini, Kaplan dan Manners merujuk tokoh-tokoh historis seperti Franz Boas yang kemudian melahirkan antropolog-antropolog seperti Alfred Kroeber, Robert Lowie, Edward Sapir, dan masih banyak lagi. Tesis utama Boas adalah, sebagaimana dikutip Kaplan dan Manners (hal. 95), semua budaya terbentuk dari sekumpulan ciri perangai (traits) yang rumit dan merupakan akibat dari kondisi lingkungan, faktor psikologis, dan kaitan historis. Kemudian, dengan mengandalkan secara khusus kajian-kajiannya mengenai lingkup wilayah penyebaran mite, kisah rakyat, dan folklore, Boas berada pada kesimpulan bahwa unsur-unsur suatu budaya merupakan produk proses historis yang rumit dan banyak melibatkan penyebaran serta pengambilalihan perangai serta kompleks perangai dari budaya lain di sekitarnya (Kaplan dan Manners, hal. 97).

Orientasi teoritik terakhir yang dibahas oleh Kaplan dan Manners adalah ekologi budaya. Menurut Kaplan dan Manners (hal. 102), suatu ciri dalam ekologi budaya ialah perhatian mengenai adaptasi pada dua tataran, yakni (1) sehubungan dengan cara sistem budaya beradaptasi terhadap lingkungan totalnya; dan (2)-sebagai konsekuensi adaptasi sistemik itu-perhatian terhadap cara institusi-institusi dalam sesuatu budaya beradaptasi atau saling menyesuaikan diri. Pada bagian ini, Kaplan dan Manners lebih jauh mengupas konsep lingkungan dan adaptasi yang menjadi kata kunci dari orientasi teoritik ekologi budaya.

Kaplan dan Manners melanjutkan diskusi orientasi teoritik ini pada bab dua mengenai tipe-tipe teori budaya ini, yang menurut saya sedikit lebih abstrak. Diskusi mengenai teori jelas merupakan suatu hal penting karena, seperti dikemukakan Larry Laudan (dikutip dari Miller, 2005: 24), fungsi utama teori adalah untuk memecahkan masalah. Laudan mengemukakan, “the first and essential acid test for any theory is whether it provides acceptable answers to interesting question; whether, in onther words, it provides satisfactory solutions to important problem”. Suatu teori yang bagus mampu menyediakan penjelasan, pernyataan mengenai bagaimana variabel-variabel berhubungan satu dengan yang lain dan tidak hanya berhenti pada konsep (Littlejohn, 1996: 24). Teori membantu kita memahami atau menjelaskan fenomena yang kita amati dalam dunia sosial (Miller, 2005: 22). Dalam antropologi, seseorang yang berusaha menjelaskan berbagai data lapangan memerlukan seperangkat konsep dan konstruk yang tidak didapatnya dari pengamatan langsung (Kaplan dan Manners, hal. 124). Sebaliknya, menurut Kaplan dan Manners, ia mengambil dari “gudang senjata” intelektual yang menyimpan temuan-temuan bidang antropologi dan disiplin-disiplin yang sekaum. Seperti dijelaskan Kaplan dan Manners, konsep dan konstruk itu memainkan peran penting dalam menentukan cara antropolog dalam memilih segi budaya tertentu yang dijadikannya pusat perhatian. Di sini, Kaplan dan Manners mengemukakan bahwa konsep atau konstruk yang digunakan antropolog dalam mengkategorisasi dan menjelaskan data lapangan merupakan suatu subsistem yang dikenal sebagai ideologi, struktur sosial, teknoekonomi, dan kepribadian. Di sini, subsistem didefinisikan sebagai seperangkat variabel atau aspek perilaku yang terlembagakan dan secara analitis dapat kita sendirikan guna memberikan penjelasan-sekurang-kurangnya penjelasan parsial-mengenai cara masyarakat memelihara dirinya sendiri dan juga melaksanakan perubahan (Kaplan dan Manners, hal. 124).

Tipe teori pertama, budaya teknoekonomi, menjelaskan perubahan-perubahan teknologi telah mempengaruhi bagaimana transformasi budaya terjadi. Untuk menjelaskan tipe teori ini, Kaplan dan Manners merujuk pada karya-karya Lauritson Sharp tentang pergantian kapak batu menjadi kapak baja di kalangan suku Yir-Yaront, pemburu peramu di Cape York, Australia. Sebagaimana dikutip Kaplan dan Manners, Sharp menunjukkan bahwa perkenalan kapak baja telah membawa perubahan dramatik dalam bidang “gagasan, sentimen, dan nilai-nilai tradisional, dan betapa hal itu menjadi sumber stress kejiwaan serta “mengubah watak hubungan antara individu dengan individu lain” maupun antaranggota kelompok, dan dengan suku-suku sekitar (hal. 131). Kaplan dan Manners juga mengutip penelitian Meyer Nimkoff dan Russel Middleton yang menemukan tipe-tipe keluarga berbeda sebagai akibat penataan ekonomi tertentu.

Tipe teori budaya berikutnya adalah struktur sosial. Diantara tipe-tipe teori budaya yang ada tampaknya struktur sosial ini yang menjadi sangat menarik karena bermuara pada tokoh-tokoh sentral dalam antropologi seperti Levi Strauss. Mengutip Radcliffe Brown, Kaplan dan Manners mendefinisikan struktur sosial sebagai pengaturan kontinu atas orang-orang dalam kaitan hubungan yang ditentukan atau dikendalikan oleh institusi, yakni norma atau perilaku yang dimapankan secara sosial (hal. 139). Dalam menganalisis budaya suatu masyarakat, kiranya, tipe teori struktur sosial ini tak asing lagi dan mudah ditemukan dalam banyak penelitian.

Berikutnya adalah ideologi. Seperti halnya budaya yang menemukan definisinya yang beragam, ideologi juga mengalami hal kurang lebih sama. Meskipun begitu, ideologi telah menjadi alat analisis sosial yang banyak digunakan untuk membongkar praktik-praktik sosial politik dalam suatu masyarakat. Jika ideologi dipahami sebagai, dalam pengertian lebih modern dan sempit, sistem gagasan yang dapat digunakan untuk merasionalisasi, memberikan teguran, memaafkan, menyerang atau menjelaskan keyakinan, kepercayaan, tindak, atau pengaturan kultural tertentu, (Kaplan dan Manners, hal. 154) maka tampaknya tidak ada suatu kelompok masyarakat yang bisa terhindar dari ideologi.

Meskipun begitu, merujuk Spiro, Kaplan dan Manners mengemukakan bahwa faktor ideologis mempengaruhi komponen budaya melalui proses pengkondisian psikologis, yakni melalui dampak gagasan terhadap perilaku manusia yang ternyata landasan teoritiknya sungguh-sungguh goyah.

Bagian terakhir bab tiga adalah kepribadian sebagai matra sosial dan psikobiologis. Dari kubu keempat ini, para antropolog memandang kepribadian mempunyai arti penting dalam telaah tentang stabilitas dan perubahan budaya (Kaplan dan Manners, hal. 172). Di sini, Kaplan dan Manners mengajukan dua pokok persoalan ketika seorang antropolog hendak menjelaskan variabel kepribadian dan fenomena kultural. Pokok soal pertama sebagaimana dikemukakan Kaplan dan Manners (hal. 173-174), adalah apakah variabel kepribadian harus ditinjau sebagai bagian integral sistem budaya yang bersangkutan, yang setara dengan variabel-variabel ketiga subsistem lainnya ataukah ditinjau sebagai sesuatu yang secara analitis bersifat ekternal terhadap budaya itu hingga mempunyai makna kausal? Kedua, jika variabel-variabel kepribadian dipandang sebagai bagian integral sistem kulturalnya, maka sejauh mana variabel itu menjalankan pengaruh kausalitas terhadap bagian lain dari keseluruhan sistem? Untuk menjawab kedua soal ini, Kaplan dan Manners melakukan pengembaraan dengan mengupas secara panjang lebar apa itu “struktur kepribadian dasar” dan apa itu “struktur kepribadian modal”. Kaplan dan Manners merujuk karya-karya antropolog seperti Anthony Wallace yang berada dalam aras kepribadian lama hingga aliran budaya-kepribadian baru yang berfokus pada kognisi dan bahasa dan kode kognitif. Salah satu yang mungkin layak dicatat dari komentar Kaplan dan Manners mengenai antropologi kognitif ini bahwa dampak kausal faktor kepribadian hanyalah kadang-kadang saja berlakunya. Sejarah budaya lebih sering menunjukkan kebalikannya, manakala telah berlangsung perubahan budaya besar-besaran dan pesat, “tipe” kepribadian dapat cepat sekali bertransformasi (hal. 214).

Berikutnya bab keempat membahas analisis formal dalam antropologi. Pada bab empat ini, Kaplan dan Manners menjelaskan dua skema teori, yakni strukturalisme dan etnografi baru. Dalam membahas strukturalisme, Kaplan dan Manners (hal. 251) banyak mengacu Levis Strauss sebagai tokoh terkemuka dalam hal ini. Berkenaan dengan etnografi baru, Kaplan dan Manners mengemukakan bahwa sasaran etnografi baru yang diajukan sebagai dalih ialah membuat pemaparan etnografis menjadi lebih akurat dan replikabel daripada yang dianggap telah berlaku pada masa sebelumnya. Untuk itu, etnografi harus berusaha mereproduksi realitas budaya seturut pandangan, penataan, dan penghayatan warga budaya (ibid). Ini berarti, menurut Kaplan dan Manners, etnografi yang ideal harus mencakup semua aturan, kaidah dan kategori yang pasti dikenal oleh warga pribumi sendiri guna memahami dan bertindak tepat dalam berbagai situasi sosial yang dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari. Di luar itu, Kaplan dan Manners juga mendiskusikan pendekatan etik dan emik terhadap fenomena budaya.

Akhirnya, dalam bab penutup, Kaplan dan Manners mengemukakan situasi krisis yang dialami antropologi dan kecenderungan masa depan. Pada bagian akhir ini, Kaplan dan Manners mengemukakan gejala dimana budaya-budaya di dunia yang cenderung menjadi satu tipe tunggal (hal. 278)-atau paling kuat menjadi beberapa tipe budaya saja-yang berlandaskan teknologi industri. Seiring dengan itu, menurut Kaplan dan Manners, ada peningkatan ketergantungan diantara unit-unit sosial, politik dan ekonomi. Dalam hal ini, yang mereka maksudkan adalah globalisasi. Gejala ini telah menciptakan suatu tatanan dunia yang saling bergantung satu dengan lainnya (interdependence) (Keohane dan Nye, 1977) meskipun, sekali lagi, analisis atas hal itu tidak ada yang tunggal (lihat, misalnya, David Held at.al, 1999).

Komentar Kritis Isi Buku
Membaca buku Teori Budaya yang ditulis Kaplan dan Manners jelas membutuhkan suatu pembacaan yang sabar dan hati-hati-terlebih bagi para penstudi budaya pemula. Ini karena selain pembahasannya sangat padat-banyak dikemukakan konsep-konsep yang menjadi ciri khas antropologi. Bahkan, pada bagian awal buku ini, Kaplan dan Manners sendiri mengemukakan bahwa “Antropologi mengambil budaya manusia di segala waktu dan tempat sebagai bidangnya yang sah” (hal. 1). Meskipun Kaplan dan Manners tidak mengajukan klaim bahwa hanya para antropolog yang kemudian paling sah melakukan studi budaya, tapi tak pelak bahwa-dalam perkembangannya-teori budaya diidentikan dengan teori antropologi. Oleh karena itu, imajinasi kita akan sebuah teori budaya yang lengkap dan komprehensif berada dalam suasana yang kabur khususnya ketika dihadapkan dengan teori-teori antropologi. Dalam konteks ini, kita bisa bertanya apakah teori budaya sama persis atau sebangun dengan teori antropologi?

Di sisi lain, ketika Kaplan dan Manners memberikan judul buku ini Teori Budaya-judul aslinya The Theory of Culture, tapi sayangnya kita justru tidak disebutkan secara tegas teori-teori yang dimaksud. Sebaliknya, Kaplan dan Manners tampaknya lebih membahas hal-hal yang tidak secara langsung dianggap sebagai teori baik dalam kerangka teori budaya maupun teori antropologi seperti dilakukan beberapa penulis. Pembahasan Kaplan dan Manners lebih berpijak pada apa yang ia sebut sebaga orientasi teoritik. Di sini, Kaplan dan Manners membedakan antara teoritik dan orientasi teoritik sehingga, tampaknya, usahanya untuk membahas teori-teori budaya ataupun antropologi menjadi kelihatan samar-samar. Pembahasan teori dibungkus dalam kerangka orientasi teoritik sehingga mana yang disebut teori itu menjadi kurang jelas.

Pembahasan Kaplan dan Manners mengenai orientasi teoritik pada akhirnya juga menjadikannya lebih umum, dalam pengertian mencari garis besar dari teori-teori budaya. Padahal, jika kita bandingkan dengan beberapa penulis antropologi-misalnya, Saifudin (2010), maka perspektif konstelasi teori-teori antropologi relatif cukup banyak. Dengan merujuk Barret, Saifudin mengemukakan bahwa ada tujuh konstelasi teori antropologi, yakni evolusionalisme (yang dibahas dengan baik oleh Kaplan dan Manners), konflik, tindakan sosial, struktural fungsional, partikularisme-difusionisme historis, antropologi psikologi dan strukturalisme (hal. 29). Empat konstelasi diantaranya dibahas dengan baik oleh Kaplan dan Manners.

Meskipun demikian, buku teori budaya ini jelas memberikan sumbangan yang cukup bermakna bagi para penstudi budaya-utamanya bagi penstudi pemula. Meskipun Kaplan dan Manners tidak merumuskan suatu diskusi yang tajam dalam teori-teori budaya dan antropologi, tapi penjelasan yang relatif lengkap dan komplit tentang teori, paradigma, analisis dan sebagainya yang dikemukakan dengan sangat baik. Dengan begitu, para peneliti pemula yang sering dibingungkan oleh apa itu teori, konstruk, konsep, paradigma dan analisis akan sedikit tercerahkan oleh paparan Kaplan dan Manners ini.*******

Daftar Pustaka
Held, David et. al., 1999. Global Transformations: Politics, Economic, and Culture, Stanford, California: Stanford University Press

Kaplan, David dan Robert A. Manners. 2002. Teori Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Kellner, Douglas. 2010. Budaya Media: Cultural Studies, Identitas, dan Politik: Antara Modern dan Postmodern. Yogyakarta: Jalasutra

Keohane, Robert O dan Joseph S. Nye, 1977. Power and Interdependence: World Politics in Transition. Boston: Little, Brown and Company (Inc.)

Littlejohn, Stephen W. 1996. Theories of Human Communication. Australia, Canada, Meksiko, Singapore, Spain: Thomson Wadsworth.

Miller, Katherine. 2005. Communication Theories: Perspectives, Process, and Contexts. Boston: McGraw-Hill

Saifuddin, Ahmad Fedyani. 2006. Antropologi Kontemporer: Suatu Pengantar Kritis Mengenai Paradigma, Jakarta: Kencana

Thwaites, Tony; Lyoyd Davis dan Warwick Mules. 2009. Introducing Cultural and Media Studies: Sebuah Pendekatan Semiotik. Yogyakarta: Jalasutra

Tentang Kajian media dan budaya populer

Pusat Kajian Media dan Budaya Populer (PKMBP) adalah sebuah lembaga yang concern dalam kajian media massa serta budaya pop. Kegiatan utama kami antara lain riset, diskusi, dan penerbitan buku.
Pos ini dipublikasikan di Kajian Media dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s