Review Artikel: The Work of Art in the Age of Mechanical Reproduction

Oleh: Puji Rianto, S.IP*

 

“The Work of Art in the Age of Mechanical Reproduction” yang ditulis oleh Walter Benjamin pada dasarnya membahas perubahan-perubahan yang terjadi dalam kerja seni sebagai akibat kemunculan “teknologi”, baik teknologi barang cetakan ataupun teknologi eletronik, film, misalnya. Secara garis besar, perubahan atas kerja seni yang diakibatkan oleh reproduksi mekanik itu berada dalam dua aras, pertama, perubahan atas seni itu sendiri dan kedua perubahan atas khalayak. Seperti dikemukakan oleh Walter Benjamin (pp. 19), pada prinsipnya, kerja sebuah seni selalu dapat direproduksi. Seseorang yang membuat artifak dapat ditiru oleh orang lain. Replika dapat dilakukan oleh para murid-murid dalam praktik keahlian mereka, oleh seorang master yang bertujuan menyebarkan kerja mereka, dan yang terakhir adalah pihak ketiga demi meraih keuntungan. Dalam situasi semacam ini, kerja seni hampir selalu bisa direproduksi. Persoalannya kemudian bagaimana proses reproduksi itu terjadi dalam era yang disebut Walter Benjamin sebagai “mechanical production” dan apa implikasinya?

Menurut Walter Benjamin,  secara historis, perkembangan proses produksi mekanik berlangsung dalam interval yang cukup lama, tapi dengan intensitas yang semakin kuat. Penemuan teknik litografi telah membuat teknik reproduksi secara ensensial meraih tahap baru. Kemudian, teknik ini tidak lama digantikan oleh fotografi, dan kemudian film. Penemuan-penemuan ini tidak hanya memberikan ciri yang berbeda pada masing-masing tahapan, tapi berimplikasi pada cara bagaimana sebuah seni akhirnya dipahami. Selain sebuah kerja seni pada akhirnya bisa direproduksi secara massal, implikasi lain yang tidak kalah menarik adalah bagaimana “penghormatan” atas karya seni itu juga berubah. Jika pada awalnya karya seni ditujukan sebagai  “medium” pemujaan, maka pada tahap berikutnya orientasi nilai itu berubah.  Sebagaimana dikemukakan Benjamin, melalui negatif fotografi, orang bisa mereproduksi sejumlah cetakan, dan menjadi tidak masuk akal untuk menanyakan keasliannya. Dalam kaitan ini, kerja seni yang awalnya berdasar (based on) ritual, mulai berdasar pada praktik-praktik yang lain-politik (pp. 23). Di sini, menurut Benjamin, lebih jauh, kerja dari seni diterima dan dinilai dalam taraf yang berbeda, yakni yang menekankan pada nilai-nilai pemujaan (cult value); dan yang kedua adalah pameran atau pertunjukkan nilai-nilai (pp. 23).

Pertunjukkan nilai-nilai ini, sebagaimana dapat dilihat dalam pertunjukkan artistik, mempunyai konsekuensi ganda. Pertama, kamera yang menghadirkan aktor film ke publik tidak memerlukan penghormatan atas pertunjukkan itu dalam keseluruhan yang integral. Pergantian gambar yang diambil oleh kamera menjelaskan hal ini. Konsekuensi pertama ini membuat performance seorang aktor dihadirkan melalui alat kamera. Juga, aktor tidak mempunyai cukup kesempatan untuk melakukan adjust kepada khalayak (audience) selama pertunjukkan. Hal ini membuat khalayak bisa mengambil sebuah posisi kritik tanpa mempunyai pengalaman langsung melalui kontak personal.  Pada akhirnya, menurut Benjamin (pp. 29), reproduksi mekanis mengubah reaksi massa terhadap seni. Reaksi progresif atas karya lukisan Picasso bergeser ke film Chaplin. Di sini, reaksi progresif dikarakteristikan sebagai langsung, gabungan mendalam atas visual dan kenikmatan emosional dengan orientasi pada ahli (expert). Pergeseran ini pada akhirnya berujung pada gejala awal krisis lukisan karena kerja seni telah berubah dan dinikmati secara massal. Meskipun demikian, dalam catatan akhir, Benjamin (pp. 33) mengemukakan bahwa massa sebagai sebuah acuan dari keseluruhan perilaku tradisional ke arah isu-isu seni sekarang ini berada dalam bentuk-bentuk baru. Kuantitas telah diubah ke dalam kualitas.

 

————————–

*Direktur Pusat Kajian Media dan Budaya Populer

Tentang Kajian media dan budaya populer

Pusat Kajian Media dan Budaya Populer (PKMBP) adalah sebuah lembaga yang concern dalam kajian media massa serta budaya pop. Kegiatan utama kami antara lain riset, diskusi, dan penerbitan buku.
Pos ini dipublikasikan di Kajian Media dan tag , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Review Artikel: The Work of Art in the Age of Mechanical Reproduction

  1. Seni untuk seni?

    Apakah seperti itu yang diharapkan walter benjamin ketika pemikirannya tidak relevan dengan Theodor Adorno?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s