Jurnalisme Televisi Kontemporer dan Masalah-Masalahnya

Oleh: Maulinni’am*

Dimensi penting dalam perkembangan jurnalisme kontemporer, terutama jurnalisme televisi, adalah kecenderungan hyper-coverage atau pemberitaan yang berlebihan. Hyper-coverage merujuk pada fakta ketika isu besar yang melibatkan tokoh elit, selebritis terungkap, berita televisi seringkali melakukan liputan secara penuh, seakan tanpa bisa ditebak ujungnya, yang menghabiskan slot air-time dan sumber produksi.[1] Kerangka pemberitaan semacam ini sangat mungkin dilakukan dengan pertimbangan ekonomi terhadap semakin meningkatnya persaingan antarmedia, bukan semata karena kepentingan publik. Hallin (1992) mengajukan gagasan, sebagaimana dikutip Derek, bahwa tembok pembatas antara news dan televisi komersial semakin terkikis. Wartawan televisi merasakan tekanan yang sangat besar untuk juga menggunakan rating sebagai orientasi produksi program sebagaimana departemen lain di perusahaan media televisi. Hyper-coverage mungkin dilihat sebagai potensi bagi program berita televisi untuk meningkatkan rating.

Hyper-coverage juga merupakan bagian dari perubahan besar struktur narasi berita televisi. Menurut Hjarvard, berita televisi bergeser dari fungsi recapitulation (merangkum peristiwa-peristiwa penting yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari) menuju fungsi continuous updating (menyajikan suatu berita dan mengikuti perkembangan cerita secara terus menerus). Hyper coverage tidak saja terdiri dari volume (banyaknya informasi yang disampaikan pada hari-hari tertentu tetapi juga longevity (lamanya koverasi).[2] Lebih jauh lagi, kemampuan berita televisi membentuk realitas bagi audiens merupakan proses kumulatif. Robert Entman menyatakan untuk hal ini sebagai berikut:

“Reality is problematic not only because news stories inevitably select some aspects of reality and leave others out. More important, over time, the spesific realities depicted in singles stories may accumulate to form a summary message that distorts social reality”[3]

Berita televisi juga rentan terhadap bias ideologi dan bias kepentingan pemilik. Survei opini publik secara konsisten membuktikan bahwa sebagian besar warga mengakui adanya bias ideologi dalam berita televisi.[4] Sebagaimana publik di Amerika misalnya, percaya bahwa berita Fox News Channel (FNC) terlalu memihak partai konservatif dan CNN terlalu condong pada partai liberal.[5]

Berkaitan kualitas jurnalisme yang makin buruk dewasa ini, James Fallows mencatat beberapa kredo jurnalisme yang seringkali diabaikan.[6] Pertama yaitu perspektif. Pentingnya perspektif dalam berita adalah membantu pembaca/pemirsa untuk menilai apakah pesan yang disampaikan cukup penting dan mendesak untuk disikapi. Ataukah pesan di media itu hanya sekilas dan berlalu saja dari layar kaca untuk kemudian dengan mudah terabaikan, terlupakan, atau tergantikan isu yang baru.

Kedua, media seharusnya menempatkan peristiwa yang mereka beritakan dalam konteks sejarah. Selayaknya sejarah yang selalu berulang, sebagian besar peristiwa yang terjadi memiliki akar sejarahnya sendiri. Dengan memandang peristiwa kekinian melalui kacamata sejarah, media diharapkan mampu memberikan pencerahan atas apa yang terjadi di masa lalu dan menawarkan apa yang mungkin bisa terjadi. Jika media gagal menempatkan konteks historis suatu peristiwa, sangat mungkin berita media justru menyesatkan pemirsa.

Kredo ketiga yang dibutuhkan dalam memberitakan peristiwa adalah perbandingan situasi. Dalam artian berita seharusnya menunjukkan persamaan dan perbedaan dari peristiwa-peristiwa. Dengan begitu membantu pemirsa untuk bisa mencermati pola atau hubungan penting antarperistiwa yang muncul di media, bukan hanya kontestasi isu yang muncul silih berganti di layar televisi. Terakhir, wartawan seringkali lupa bahwa tugas mereka adalah memberi informasi yang berguna bagi kehidupan audiens baik sebagai individu maupun warga negara.

1. Breaking News

Salah satu perubahan terbesar dalam jurnalisme televisi dekade terakhir ini adalah fasilitas siaran berita secara langsung, segera, dan terus menerus oleh saluran televisi berita. Ada bermacam istilah untuk merujuk pada jenis laporan jurnalistik ini antara lain breaking news, live report, stop press, atau special report.

Breaking news merujuk pada liputan peristiwa yang sedang berlangsung, masih akan berkembang, atau mencengangkan.[7] Informasi disampaikan dengan bahasa yang menekankan pada sesuatu yang bersifat mendesak. Liputan diperkuat dengan video real-time, sepaket gambar, dan musik yang dramatis. Penonton menyadari acara lain dipotong di tengah hanya untuk menyiarkan breaking news, berarti bahwa informasi yang disiarkan lebih bernilai. Seringkali reporter melaporkan langsung dari tempat kejadian dan tidak menggunakan naskah berita. Penyiar juga berharap terjadi peristiwa yang memantik rasa ingin tahu penonton untuk mencari informasi tambahan.[8] Peristiwa yang dilaporkan biasanya kejadian yang jarang terjadi, tidak diduga sebelumnya seperti kecelakaan pesawat. Bisa juga peristiwa yang sudah direncanakan tetapi memiliki nilai urgensi, atau unsur luar biasa yang menarik perhatian publik misal pemecahan rekor, acara kenegaraan, atau persidangan kasus besar.

Breaking news, yang sebenarnya perkembangan dari format news bulletin, merupakan program berita di luar yang sudah terjadwal. Mulanya hanya digunakan untuk berita yang sangat penting, sehingga punya legitimasi untuk menginterupsi program acara yang sedang berlangsung kapan pun. Tetapi kemudian digunakan oleh stasiun televisi sebagai strategi pasar untuk menunjukkan eksklusivitas pemberitaan. Meskipun tidak semua audiens sepakat tentang tingkat urgensi, signifikansi, dan kepentingan yang menjadikan berita itu pantas disebut eksklusif.

Ini juga yang menjadi perdebatan seru di kalangan pemerhati media, sosial, maupun politik bahwa kebohongan (informasi) bisa dengan cepat tersebar. Sementara untuk meralat dengan infomasi yang benar tidaklah mudah dan serta merta mengubah persepsi audiens yang sudah terlanjur mendapat informasi yang bohong tersebut. Bisa jadi ketika ralat informasi disampaikan, audiens sedang tidak menonton televisi. Kalau pun audiens sempat menonton ralat informasi, justru akan menimbulkan kecurigaan terhadap kepentingan yang mungkin ada di balik ralat informasi tersebut. Jika memang tak ada kepentingan lain di balik berita yang diralat, kredibilitas televisi tersebut sebagai sumber informasi terpercaya akan turun di mata audiens.

Dilihat dari durasinya, breaking news biasanya hanya singkat saja, tak lebih dari 3 menit. Tapi jika informasi yang diberitakan dirasa sangat penting, breaking news bisa berlangsung puluhan menit hingga berjam-jam. Misalnya siaran pers dari Presiden, sidang komisi DPR, bencana alam, atau sidang pengadilan koruptor kelas kakap. Jika liputan berlangsung lama, redaksi akan menyiapkan presenter di studio untuk memandu acara dan menyajikan analisis terhadap isu yang diliput. Analisis bisa dilakukan dengan menghadirkan narasumber di studio, via telpon, atau siaran langsung dari beberapa reporter di lokasi yang berbeda.

Informasi yang disajikan dalam breaking news seringkali kurang lengkap, serta tidak mendetail. Biasanya ini disebabkan keterbatasan informasi yang didapat ketika pertama kali tiba di lokasi dan dorongan untuk menjadi yang pertama memberitakan. Tetapi rupanya tidak semata karena minimnya informasi yang tersedia, tetapi lebih karena malas menggali data lebih dalam. Celakanya, berita instan dengan informasi penuh sensasi, dan tanpa kedalaman ala infotainment sudah menjangkiti, untuk tidak mengatakan menjadi ciri khas, jurnalisme televisi.[9]

Dalam buku If It Bleeds It Leads: An Anatomy of Television News, Matthew R. Kerbel memberikan resepnya dalam menulis berita yang mampu menyedot perhatian khalayak.[10] Pertama-tama, seorang penulis berita harus mampu menemukan sisi emosional dari peristiwa. Sisi emosi ini harus sesuatu yang bisa memancing rasa prihatin, belas kasihan, ketakutan, ketidakpastian, dan ketidakpuasan. Misalnya isu keselamatan alat transportasi udara atau teror bom yang marak terjadi tanpa bisa diprediksi. Langkah kedua, lengkapi cerita dengan visual yang memperkuat sensasi emosi tersebut.

Berita yang disajikan secara dramatis atau sensasional bukannya tanpa efek samping. Michael A. Milburn dan Anne B. McGrail melakukan percobaan kepada audiens dengan memperlihatkan potongan-potongan berita televisi yang dramatis. Potongan berita tersebut diedit untuk menghilangkan scene yang sangat dianggap sangat dramatis. Hasilnya cukup mengejutkan. Ternyata semakin dramatis berita disajikan semakin berkurang daya ingat audiens terhadap isi berita dan semakin berkurang kompleksitas pikiran audiens terhadap informasi yang disampaikan.[11]

Penggunaan drama dalam berita televisi memiliki 2 aspek penting, membangkitkan aspek emosi dan penggunaan mitos sebagai dasar. Keduanya turut andil dalam pengerdilan isu. Alasannya, drama bekerja dengan memberikan sensasi bagi penontonnya. Sensasi itu melibatkan pengalaman audiens, di mana titik tekannya pada perasaan bukan pada logika. Sedangkan mitos memandu penonton dalam memahami alur cerita, termasuk penyelesaian dari berbagai persoalan yang dipertontonkan.[12]

2. Siaran Langsung: Beragam Perspektif atau Realita Berlipat Ganda

Teknologi digital sekarang ini semakin mudah digunakan untuk meliput berita. Kemudahan teknologi turut mengubah beberapa praktek reportase. Bahkan Huffaker meyakini bahwa perkembangan teknologi tidak saja mengubah bentuk siaran berita langsung, tetapi juga merendahkan. Berita televisi sekarang ini sangat mudah memutuskan untuk menyiarkan peristiwa secara langsung, meskipun kejadian sebenarnya sudah lama berlalu. Kalau dulu wartawan hanya akan berada di lokasi kejadian karena suatu alasan dan akan segera beranjak jika sudah tidak ada lagi yang dilaporkan. Daripada membuang-buang waktu di suatu tempat dengan melakukan siaran langsung terus-terusan, lebih baik wartawan pergi ke tempat yang memiliki sesuatu yang bernilai untuk diliput. “We reported on the spot if events were urgent, and when they were over, we hurried in with film to develop and stories to write.”[13]

Benar bahwa teknologi sudah semakin canggih dan sangat mungkin untuk melakukan liputan secara langsung peristiwa-peristiwa yang berlangsung sedemikian cepat dan tak bisa diprediksi. Tapi bukan berarti bahwa semua peristiwa layak disiarkan secara langsung. Kecepatan dan kemampuan mengkover peristiwa yang terus berkembang cepat hanyalah sekian dari beberapa kelebihan dari siaran langsung. Kita perlu memahami siaran langsung lebih mendalam, mungkin secara filosofis.

Hemmingway meminjam pisau analisis Mol untuk membedah anatomi berita televisi. Mol menjelaskan perbedaan penting antara apa yang ia sebut perspectivalism di satu sisi dan ‘multiple, fragmented realities’ di lain sisi. Dua konsep tersebut adalah fondasi yang melekat dalam realitas berita yang disiarkan tiap hari. Perspectivalisme melihat bahwa tiap berita adalah salah satu versi dari satu kebenaran. Berita-berita di televisi adalah sekumpulan perspektif yang beragam dalam melihat satu realitas. Dengan begitu audiens mendapatkan pemahaman yang kaya tentang suatu peristiwa. Sedangkan siaran langsung yang berlangsung secara terus menerus pada dasarnya terdiri dari beberapa realitas. Karena peristiwa selalu berkembang, baik cerita maupun aktornya. Mol menjelaskan sebagai berikut:

In performance stories, fleshiness, opacity and weight are not attributes of a single object with an essence that hides. Nor is it the role of tools to lay them bare as if they were so many aspects of a single reality. Instead of attributes or aspects, they are different versions of the object, different versions that the tools help to enact. They are different and yet related objects. They are multiple forms of reality. Itself.[14]

Dengan kata lain, terpaan multi-realitas melalui siaran langsung yang seringkali gagal dalam mengambil posisi perspektif yang tegas akan mempengaruhi pemahaman audiens terhadap realitas sebenarnya.

Referensi

[1] Derek H. Alderman. TV News Hyper-Coverage and The Representation of Place: Observations on the O.J. Simpson Case. Geografiska Annaler. Vol. 79, No. 2 (1997)

[2] Ibid, h. 86

[3] Robert M. Entman. 1994. Representation and Reality in The Portrayal of Blacks on Network Television News. dalam Derek H. Alderman, TV News Hyper-Coverage and The Representation of Place: Observations on the O.J. Simpson Case. Geografiska Annaler. Vol. 79, No. 2 (1997), h. 86

[4] Survey-survey tersebut dilakukan oleh American Society of Newspaper Editors (1999), Gallup Organization (2003), dan Pew Research Center (2005) dalam Joel Turner, The Messenger Overwhelming the Message: Ideological Cues and Perceptions of Bias in Television News. Polit Behav (2007) 29:441–464 diakses melalui publikasi online Springer dengan DOI 10.1007/s11109-007-9031-z

[5] Ibid, h. 442.

[6] Doris A. Graber. “Breaking the News: A Review Essay.” Political Science Quarterly. (Vol. 111, No. 4, Winter, 1996-1997), h. 691-692, tersimpan dalam http://www.jstor.org/stable/2152090 diakses pada 26/01/2011

[7] Tony Rogers. “Breaking News” Journalism. Tersimpan di http://journalism.about.com/od/journalismglossary/g/breakingnews.htm diakses pada 21 Jan 2011 08:52

[8] William Joe Watson, Cognitive Effect of Breaking News: Establishing a Media Frame to Test Audience Prime, disertasi pada College of Communication & Information Kent State University, Desember 2005, h. 1.

[9] Doris A. Graber. “Breaking the News: A Review Essay.” Political Science Quarterly. (Vol. 111, No. 4, Winter, 1996-1997), h. 690, tersimpan dalam http://www.jstor.org/stable/2152090 diakses pada 26/01/2011

[10] Matthew R. Kerbel, If It Bleeds, It Leads: An Anatomy of Television News. Oxford: Westview Press. 2001.

[11] Michael A. Milburn and Anne B. McGrail, “The Dramatic Presentation of News and Its Effects on Cognitive Complexity.” Political Psychology, Vol. 13, No. 4 (Dec., 1992), h. 613 tersimpan dalam http://www.jstor.org/stable/3791493 diakses pada 26/01/2011 22:44

[12] Ibid, h. 615.

[13] Huffaker et al. 2004. When the News Went Live. Dalam Emma Hemmingway, Into The Newsroom. Oxon: Routledge, 2008, h. 143.

[14] A. Mol (2002), The Body Multiple: Ontology in Medical Practice dalam Emma Hemmingway. Into The Newsroom. Oxon: Routledge, 2008, h. 145

——————————————

*Asisten Peneliti Pusat Kajian Media dan Budaya Populer. Saat ini sedang menuntaskan studinya di Jurusan Komunikasi UGM dengan skripsi berjudul “Siaran Langsung Persidangan dan Etika Media: studi kasus siaran langsung sidang perdana Antasari Azhar pada 8 Oktober 2009 oleh Metro TV dan TV One”

Tentang Kajian media dan budaya populer

Pusat Kajian Media dan Budaya Populer (PKMBP) adalah sebuah lembaga yang concern dalam kajian media massa serta budaya pop. Kegiatan utama kami antara lain riset, diskusi, dan penerbitan buku.
Pos ini dipublikasikan di Kajian Media. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Jurnalisme Televisi Kontemporer dan Masalah-Masalahnya

  1. Arifianto berkata:

    Tulisannya bagus, aku terkesan sekali, dan salam untuk Ibu Rahayu, Mas Puji Rianto,Mas Iwan, dan kawan2 peneliti lainnya. ( dari Arifianto di Jakarta).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s