SURAT TERBUKA: MENUNTUT SELEKSI ULANG PROSES SELEKSI CALON ANGGOTA KPI 2013-2016

Image

Proses seleksi Calon Anggota Komisi Penyiaran Indonesia Pusat periode 2013-2016 (KPI 2013) telah menetapkan 27 orang yang akan diajukan ke Komisi I DPR RI untuk menjalani uji kepatutan dan kelayakan guna menentukan 9 calon terpilih. Namun, setelah mengamati proses dan hasil kerja PANSEL (Panitia Seleksi), kami, masyarakat sipil yang tergabung dalam KOALISI UNTUK PENYIARAN DEMOKRATIS, meminta kepada Komisi I DPR RI untuk memerintahkan Pansel menghentikan proses lebih lanjut pemilihan Calon Anggota KPI 2013-2016, dan memerintahkan KPI Pusat membentuk Pansel yang independen.

Permintaan ini diajukan berdasarkan alasan dan pertimbangan sebagai berikut.

1. Panitia seleksi calon anggota KPI 2013-2013 terdiri dari tiga orang, yaitu Mochammad Riyanto (Ketua KPI Petahana), Edy Lisdiano (lawyer KPI), dan Ichwan Sam (MUI). Komposisi Pansel seperti ini jelas berpengaruh terhadap independensi panitia seleksi. Merujuk pada proses seleksi periode sebelumnya, personalia Pansel adalah orang-orang independen sehingga tidak menimbulkan konflik kepentingan dengan komisioner petahana yang mencalonkan diri kembali.

2. Jumlah personalia Pansel yang hanya 3 orang dan dua diantaranya dapat dikatakan berasal dari KPI jelas tidak representatif untuk melakukan seleksi terhadap calon komisioner lembaga negara seperti KPI.

3. Tidak adanya transparansi dalam proses seleksi baik di tingkat administrasi maupun tahapan berikutnya. Bukti-bukti yang dapat diajukan untuk mendukung hal tersebut adalah sebagai berikut.

a. Pada berita di web KPI (www.kpi.go.id) edisi 16 Mei 2013 berjudul, ”Penerimaan Calon Anggota KPI Pusat Periode 2013-2018 Resmi Ditutup,” menyebutkan bahwa jumlah pendaftar ada 118. Namun, dalam pengumuman pendaftar yang lolos seleksi administrasi di web KPI edisi 3 Juni 2013, disebutkan jumlah pendaftar ada 120. Hal itu berarti setelah tanggal 16 Mei 2013 Pukul 16.00 WIB sebagai batas akhir pendaftaran masih ada pendaftar yang diterima. Artinya, Pansel telah bertindak tidak jujur dan menyalahgunakan kewenangannya dengan memasukkan pendaftar baru di luar batas waktu yang ditentukan. 

b. Pengumuman pendaftar yang lolos seleksi administrasi pada awalnya sebanyak 72 orang, tetapi hari berikutnya menjadi 73 orang tanpa penjelasan mengapa terjadi perubahan seperti itu.

Berdasarkan paparan data dan fakta seperti itu dapat disimpulkan sebagai berikut.

1. Pansel bekerja secara tidak independen, tidak obyektif dan bias kepentingan sehingga hasilnya tidak layak dipercaya, dan menciderai independensi KPI yang dibangun untuk menjadi kekuatan masyarakat sipil dalam menciptakan demokratisasi penyiaran.

2. Pansel bekerja secara tidak jujur, tidak transparan, dan tidak profesional, serta mengesampingkan aspirasi publik sehingga hasilnya harus diulang.

Sehubungan dengan permasalahan tersebut, maka dengan ini masyarakat sipil yang tergabung dalam KOALISI UNTUK PENYIARAN DEMOKRATIS (KOMPEDEM) meminta Komisi I DPR RI untuk memerintahkan Pansel agar menghentikan proses lebih lanjut pemilihan Calon Anggota KPI 2013-2016. Selanjutnya, meminta kepada Komisi I DPR RI agar membentuk Pansel yang independen.

Agar aspirasi ini dapat diketahui oleh masyarakat luas, maka selain menyampaikannya kepada Komisi I DPR RI, kami juga menyebarluaskan aspirasi melalui media massa dan media sosial yang ada. Surat terbuka ini bebas untuk disebarkanluaskan kepada masyarakat maupun pihak-pihak yang berkompeten.

Demikian Surat Terbuka ini dibuat untuk mendapatkan perhatian, demi terciptanya demokratisasi penyiaran di Indonesia yang makin berkualitas.

Yogyakarta, 21 Juni 2013

Kami yang membuat Surat Terbuka:

No.    Nama                                   Lembaga
1.      Bambang MBK                     Rumah Perubahan Lembaga Penyiaran Publik
2.      Darmanto                             Perkumpulan MASYARAKAT PEDULI MEDIA (MPM) Yogyakarta
3.      Firly Anissa                          Rumah Sinema Yogyakarta
4.      Masduki                               PR2MEDIA
5.      Puji Rianto                           PR2MEDIA
6.      Sinam                                  Jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI)
7.      Widodo Iman K.                   Lembaga Studi Pembangunan dan Masyarakat (LSPM)
8.      Wisnu Martha AP                Pusat Kajian Meia dan Budaya Populer (PKMBP)
9.      Ananto Sulistyo                   Asosiasi Televisi Komunitas Indonesia (ATVKI)

Juru Bicara:
1. Puji Rianto (0856 2918 163)
2. Masduki (0815 7915 072)
3. Darmanto (0813 2524 1822)

Sekretariat:
Masyarakat Peduli Media (MPM)
Jl.Ontorejo No. 97 RT 29/6 Wirobrajan Yogyakarta 55252
Tlp./Faks.(0247) 417982/618069

Dipublikasi di Kajian Media | Tinggalkan komentar

Membumikan Literasi Media, Menjawab Tantangan Media Kini

Oleh: Nuril Ashivah Misbah*

You are able to build the life that you want rather than letting
the media build the life they want for you.
—W. James Potter—

Wacana buruknya kualitas content media massa dan dampak negatif yang ditimbulkan bukanlah hal yang baru bergulir. Wacana ini telah menjadi perbincangan yang tak ada habisnya baik di kalangan akademisi, pemerhati media, dan masyarakat. Gugatan terhadap media massa akan kondisi seperti ini pada akhirnya disadari bukan hal terbaik yang dapat menjanjikan perubahan. Terutama dengan menguatnya cengkraman kapitalisme dalam tubuh institusi media.

Dalam perspektif kritis ekonomi politik, media merupakan wadah di mana terjadi tarik-menarik antara kepentingan ekonomi (pemilik modal) dan politik (permainan kekuasaan). Golding dan Murdock (1992: 18) melihat bahwa produk media merupakan hasil konstruksi yang disesuaikan dengan dinamika ekonomi yang sedang berlangsung dan struktur-sturktur dalam institusi yang menyokong berputarnya roda institusi media. Mereka mencontohkan berita, menurut mereka berita yang disajikan pada masyarakat disusun berdasarkan relasi-relasi yang ada antara pemilik insitusi pers, editor, jurnalis, dan sumber berita. Jadi dalam pandangan kritis ekonomi politik, setiap produk berita tidak pernah bebas dari kepentingan ekonomi dan kekuasaan pemilik serta struktur-stuktur yang ada. Dengan kata lain, produk media akan selalu bias.

Menarik perspektif kritis ekonomi politik ini pada buruknya content media yang ditawarkan saat ini, bisa membawa pada pemikiran dan asumsi bahwa produk media dibuat dan diproduksi hanya untuk mendulang profit ( keuntungan ) dan sebagai pengejawantahan dari kekuasaannya. Sedangkan kebutuhan masyarakat akan tayangan yang “sehat” serta pemenuhan fungsi media akan fungsi edukasi menjadi hal yang ter-nomer sekian-kan. Maka menjadi sedikit musykil untuk menunggu perubahan dari pihak media.

Sejalan dengan kondisi seperti ini, maka dibutuhkan sebuah pendidikan media sebagai uapaya untuk meng-counter content media. Tulisan ini akan mengungkap hal itu. Secara lebih khusus tulisan ini akan mengedepankan literasi media sebagai salah satu alternatif pendidikan media kontemporer. Akan disajikan konsep-konsep mendasar literasi media dan pentingnya literasi media serta beberapa model yang dapat digunakan dalam memperkenalkan literasi media.  Dan pada akhirnya, bahasan ini juga akan menyajikan peluang gerakan literasi media di Indonesia.

Produksi dan Produk Media Massa

Produk media tidak pernah dapat dilepaskan dari proses produksinya. Proses produksi dan produk media (teks media) selalu berada pada satu garis lurus di mana kepentingan-kepentingan dalam institusi media bertarung dan beradu di dalamnya. Tentunya, kepentingan-kepentingan yang beradu dalam suatu institusi media akan sangat mempengaruhi pada setiap tahap pembuatan sebuah teks media. Mulai dari konsep produk, isu dan ideologi yang diangkat, genre, produksi, hingga pada pemilihan jam tayang siaran pada media penyiaran atau halaman pada media cetak. Dan yang terpenting dalam produksi teks media adalah pemilihan simbol atau tanda atau kode yang digunakan sebagai representasi dari kepentingan-kepentingan (ekonomi dan politik) serta ideologi-ideologi lainnya. Karena penggunaan simbol-simbol/kode-kode inilah maka teks media sendiri merupakan arena pertarungan makna.

Tulisan ini akan coba memotret media melalui perspektif kritis ekonomi politik yang secara sederhana berasumsi bahwa setiap kegiatan media selalu bertumpu pada aktivitas ekonomi dan politik, yaitu pada keuntungan dan kekuasaan. Critical political economy is interested in the interplay between economic organization and political, social and cultural life (Golding dan Murdock, 1992: 18). Aktivitas ekonomi dan politik ini yang kemudian mendominasi keseluruhan aspek dalam institusi media, menyetir ke mana arah media berjalan. Sehingga output media pun bertujuan untuk memenuhi kerangka pikir ekonomi dan politik insitusi, yaitu sebagai peraup keuntungan atau sebagai alat politik.

Dengan lebih tegas, Golding dan Murdock menyebutkan bahwa kepentingan-kepentingan ekonomi dan politik biasanya datang dari pemilik media as a instrument of class domination dan sistem pasar yang digerakkan oleh paham kapitalisme. Sepaham dengan Golding dan Murdock, Mosco (2009:134) bahkan menyebutkan bahwa komunikasi sendiri merupakan arena potensial tempat terjadinya komodifikasi. Hal ini dikarenakan komunikasi merupakan komoditas yang sangat besar pengaruhnya karena yang terjadi bukan hanya komodifikasi untuk mendapatkan “surplus value”, tapi juga karena pesan yang disampaikan mengandung simbol dan citra yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan komodifikasi.

Mosco menyebutkan ada tiga bentuk komodifikasi dalam komunikasi (2009: 135-139), yaitu (1) komodifikasi konten, dimana pesan (teks media) diproduksi dengan menggunakan simbol-simbol sebagai arena representasi hingga mewujud dalam bentuk produk yang dapat dipasarkan; (2) komodifikasi audiens, dimana audiens dijadikan komoditas yang “dijual“ kepada para pengiklan; (3) komodifikasi pekerja, dimana keahlian dan jam kerja para pekerja dijadikan komoditas dan dihargai dengan gaji.

Kepentingan ekonomi (komodifikasi) seperti ini dapat terlihat dari penggunaan ‘rating’ sebagai satu-satunya tolok ukur dalam melihat keberhasilan sebuah program dalam industri pertelevisian. Rating menjadi alat untuk menilai content (teks/produk media) apakah ia layak dijual. Kelayakan ini ditandai dengan seberapa banyak pemasang iklan yang mampu ditarik dalam setiap penayangan program tertentu. Selain itu, rating juga menjadi data dalam mengkomodifikasi audiens. Data audiens yang terangkum dalam rating menjadi pijakan bagi para pemasang iklan untuk memasarkan produknya di program tayangan tertentu atau tidak.

Rating pun menjadi suatu tuntutan yang harus dicapai dalam setiap produksi teks media. Maka para pekerja media televisi beramai-ramai mengejar rating dan kerap mengesampingkan kualitas program serta tak lagi memperhatikan program seperti apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh audiens. Karena keberhasilan suatu tayangan didasarkan pada logika rating, maka keberhasilan kerja para pekerja pun ditentukan oleh rating yang diperoleh oleh tayangan yang diproduksinya.

Konsentrasi yang diberikan pada pendapatan iklan ini, tidak dipungkiri memiliki sumbangan besar pada lahirnya produk-produk media yang tidak berkualitas. Kualitas produk media menjadi perhatian kesekian, asalkan iklan tetap berdatangan. Tak peduli kualitas output media yang semakin menurun serta apa yang sebenarnya diinginkan audiens, program yang memperoleh iklan tinggi tetap dianggap layak untuk terus dipertahankan. Kerangka pikir ekonomis yang masuk dalam kerja media memang tidak sedikit dampaknya pada output media. Perolehan rating dan iklan yang berarti perolehan keuntungan bagi perusahaan media menjadi orientasi dari perputaran roda institusi media. Tak pelak, untuk mencapai hal tersebut ragam tayangan yang disajikan menjadi penuh dengan hal-hal mistis, kekerasan, sensualitas, seksualitas, pertengkaran, perkelahian, dan dramatisasi.

Reality Show: Sebuah Pengejawantahan Media Economic Oriented

Dari sekian banyak ragam program tayangan yang “bertebaran” di televisi, bisa kita temukan satu ragam program berupa reality show yang memiliki karakter khas. Reality show adalah program yang menyajikan kehidupan nyata (real life) dan sehari‐hari dari masyarakat biasa yang juga diperankan langsung oleh mereka (bukan aktris/aktor profesional). Hill (2005) mendefinisikan reality show sebagai “a genre of television programming that presents purportedly unscripted dramatic or humorous situations, documents actual events, and usually features ordinary people instead of professional actors, sometimes in a contest or other situation where a prize is awarded”. Di sinilah letak perbedaan reality show dengan program lainnya. Karakter reality show ini menjadikannya sebagai salah satu alternatif pilihan bagi pemirsa.

Dan karenanya dalam 10 tahun terakhir ini tayangan reality show begitu merebak di televisi Indonesia dengan berbagai varian tema, seperti pencarian bakat (Indonesian Idol, Indonesia Mencari Bakat, Mama Mia), cinta dan seputar rumah tangga (Masihkah Kau Mencintaiku, Cari Jodoh, Take Him/Me Out), charity (Bedah Rumah, Tolong!, Barang Bekas), pencarian orang hilang (Termehek‐mehek), games (Happy Family), traveling dan kuliner (Etnic Runaway, Benu Bolu) dan semacam pengabdian atau menyelami kehidupan orang lain (Andai Aku Menjadi, Pengabdian).

Maraknya program reality show di televisi secara tidak langsung menunjukkan minat pemirsa yang tinggi terhadap program bergenre reality show. Kedekatan (proximity) yang dirasakan pemirsa dengan program reality show yang diperankan oleh “orang biasa” bisa jadi merupakan salah satu hal yang membuat pemirsa tertarik pada program reality show. Dan karakter reality show yang diklaim oleh pihak televise sebagai program non-fiksi, mudah membuat penonton merasa dekat dan merasa bahwa benar itulah yang terjadi. Akibatnya penonton menjadi mudah percaya pada apa yang ditontonnya.

Bekti Nugroho, salah satu anggota Dewan Pers, menyatakan bahwa reality show membuat penonton menjadi bingung dengan yang benar dan yang salah.[1] Pasalnya, beberapa program reality show menghadirkan tayangan yang cenderung mendramatisasi dan eksploitatif, seperti reality show yang mengangkat tema kemiskinan, maka kemiskinan akan dieksploitasi sedemikian rupa. Pada tahun 2009, KPI menegur empat program reality show karena alasan tersebut. Namun menggantungkan harapan pada pihak media tentu saja bukan hal yang bijak. Sebab pemasukan yang diperoleh melalui tayangan reality show terbilang besar dan tentu sulit bagi pihak media untuk mengubah format reality show. Sehingga yang perlu dilakukan adalah penguatan audiens (penonton) melalui sebuah upaya memahami media dengan lebih baik, yaitu literasi media.

Literasi Media: Sebuah Upaya untuk Lebih Memahami Media

Literasi media merupakan istilah lain dari melek media. Secara sederhana, literasi media adalah kemampuan untuk menyaring, memilah, dan memilih pesan-pesan yang terdapat dalam media massa, baik cetak maupun elektronik. Jane Tallim mendefinisikan literasi media sebagai “the ability to sift through and analyze the messages that inform, entertain and sell to us every day. It’s the ability to bring critical thinking skills to bear on all media”.[2] Dari definisi yang diberikan, Tallim memberikan satu kunci dalam literasi media, yaitu berpikir kritis atas semua content media. Selanjutnya Tallim menyebutkan bahwa berpikir kritis dapat diimplementasikan melalui pertanyaan-pertanyaan seperti untuk siapa pesan dalam media diperuntukkan, siapa target audiens dari pesan tersebut dan mengapa, dari perspektif siapa pesan tersebut disampaikan, menyuarakan siapa pesan itu, dan lebih dalam lagi kepentingan, ideologi, dan nilai-nilai yang melatarbelakangi pesan (teks media) itu.

National Association for Media Literacy Education (NAMLE) melihat literasi media sebagai serangkaian kompetensi komunikasi, yang di dalamnya terdapat kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan mengkomunikasikan informasi dalam beragam bentuk, termasuk pesan dalam media cetak dan non cetak.[3] Dari definisi NAMLE tersebut terlihat ada empat kompetensi yang harus dipenuhi untuk disebut sebagai literasi media. Pertama, memiliki kemampuan untuk mengakses pesan. Syarat ini tentu saja merupakan hal mendasar yang harus dipenuhi. Dengan kata lain, literasi media tidak dibutuhkan bila tidak ada satu pun media yang diakses. Kedua, kemampuan untuk menganalisis pesan dalam media secara kritis, lalu mengevaluasinya, dan terakhir mengkomunikasikan hasil penilaian terhadap pesan tersebut.

Kemampuan akan literasi media sangatlah penting, khususnya pada zaman informasi seperti saat ini atau yang disebut dengan mediated environment”. Pertama, dengan mempelajari literasi media masyarakat menjadi audiens yang aktif. Kedua, masyrakat akan menjadi lebih sadar (aware) dan kritis atas apa yang tersaji dalam media.[4] Ketiga, literasi media akan mengajarkan orang agar mampu menggunakan media sesuai dengan manfaat yang ingin didapatkan. Dan keempat, untuk masa depan generasi yang akan datang agar siap untuk hidup dalam lingkungan media seperti sekarang. Empat hal tersebut cukup menjadi alasan yang kuat mengapa literasi media menjadi penting untuk dipelajari.

Konsep paling mendasar literasi media sebenarnya adalah “membaca” media dengan lebih kritis. Keterampilan atau kemampuan untuk “membaca” media ini tidak dapat muncul begitu saja, tapi melalui latihan yang terus dikembangkan. Untuk lebih memahami literasi media, John Pungente, seorang pakar pendidikan media dan Ketua CAMEO (Canadian Association of Media Education Organizations), memperkenalkan delapan konsep kunci literasi media, yaitu:[5]

  1. Semua media merupakan hasil konstruksi (all media are constructions); ini adalah konsep dasar yang perlu ditekankan, bahwa tidak ada satu media pun yang benar-benar merefleksikan realitas yang sebenarnya. Apa yang ada dalam media merupakan hasil konstruksi, dan literasi media adalah sebuah upaya untuk mendekonstruksi konstruksi tersebut.
  2. Media mengkonstruksi realitas (the media construct reality); bahwa hampir mayoritas pemahaman kita mengenai apa yang sedang berlangsung di sekitar kita adalah hasil dari konstruksi media. Isu apa yang diangkat oleh media, maka itulah yang menjadi perhatian dan hal penting yang perlu disoroti saat itu. Dan bahkan pandangan kita mengenai satu peristiwa akan sangat dipengaruhi oleh bagaimana media memotret peristiwa tersebut, di mana kepentingan media terangkum di dalamnya.
  3. Audiens dapat menegosiasikan makna (audiences negotiate meaning in media); meskipun pemahaman masyarakat sangat teragantung pada apa yang dipotret dan disajikan media, namun masyarakat juga memiliki kemandirian untuk menegosiasikan makna dari pesan di media berdasarkan pada faktor individu, seperti kebutuhan pribadi, latar belakang keluarga dan kebudayaan, pendirian moral, dan sebagainya. Dengan kata lain, pemaknaan sangat tergantung pada faktor individu dan bersifat personal.
  4. Pesan dalam media memiliki implikasi komersial (media messages have commercial implications); media dan produk yang dihasilkan sangat dipengaruhi oleh pertimbangan-pertimbangan komersil (ekonomi), dan literasi media mencoba untuk membangun kesadaran akan hal itu. Sehingga tercipta sebuah kontrol atas apa yang ditonton, dibaca, dan didengar melalui media.
  5. Pesan dalam media mengandung unsur-unsur ideologi dan nilai (media messages contain ideological and value messages); semua produk media selalu merepresentasikan nilai-nilai dan way of lifes. Baik secara eksplisit maupun implisit, media selalu menghadirkan pesan-pesan ideologis yang berbalut isu seperti gaya hidup yang baik, kebaikan dalam konsumerisme, peran perempuan, dan sebagainya.
  6. Pesan dalam media mengandung implikasi sosial dan politik (media messages contain social and political implications); media memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap proses politik yang sedang berlangsung dan membentuk perubahan sosial. Lihat saja bagaimana peran media dalam pemilihan umum yang berdampak pada kepemimpinan nasional dan penggiringan isu-isu politik seperti HAM, gerakan kaum feminis, atau wabah AIDS.
  7. Bentuk dan isi pesan media sangat tergantung pada media itu sendiri (form and content are closely related in media messages); setiap media memiliki cara masing-masing dalam mengemas sebuah peristiwa, sesuai dengan karakter dan agenda yang dibawa media tersebut. Sebuah peristiwa yang dilaporkan bisa saja sama, tapi dapat menimbulkan kesan yang berbeda bagi audiens.
  8. Setiap media memiliki keunikan tersendiri dalam hal estetika (each medium has a unique aesthetic form); setiap media memilki karakter yang berbeda satu dengan yang lainnya. Televisi mimiliki karakter audio visual, dan ini berbeda dengan radio yang memiliki karakter audio saja. Perbedaan ini pada akhirnya akan menghasilkan nilai estetis yang berbeda antar media.

Delapan konsep kunci ini membantu untuk membangun kesadaran bahwa media tidak pernah netral, selalu ada kepentingan, unsur kepemilikan, ideologi institusi, dan tendensi komersial yang terangkum dalam sebuah produk media. Kesadaran seperti ini juga menunjukkan bahwa audiens memiliki otonominya sendiri dan memiliki power yang lebih besar dari media. Dan masyarakat harus memiliki sikap terhadap media sebelum media berbalik menyetir kehidupan masyarakat. Delapan konsep kunci tersebut menjadi awal dari perkembangan keterampilan literasi media.

Baran (2004: 56-57) mengungkapkan bahwa dalam literasi media, ada beberapa tingkatan keterampilan, yaitu:

  1. Kemampuan dan kehendak untuk berusaha memahami dan mengerti content media, memperhatikannya, dan menyaring hal-hal yang tidak layak.
  2. Mengerti dan respek terhadap kekuatan pesan dalam media.
  3. Kemampuan untuk membedakan antara reaksi emosional ketika mengkonsumsi pesan media dan dalam bertindak dengan menyesuaikan apa yang ada di media. Jadi, tidak serta-merta walaupun kita merasa terharu dengan apa yang ada di media, kita langsung bertindak serupa. Perlu diingat bahwa bagaimanapun pesan-pesan dalam media diperlukan sebuah sistem penyaringan.
  4. Terus berkembang dan bertambahnya ekspektasi terhadap content media.
  5. Memiliki pengetahuan tentang genre-genre tayangan yang sudah ada, dan kemampuan untuk mengenalinya ketika beberapa genre digabung menjadi satu program tayangan.
  6. Kemampuan untuk berpikir kritis atas pesan dalam media, tidak peduli meski sumber yang digunakan credible.
  7. Memiliki pengetahuan tentang karakter bahasa yang digunakan tiap-tiap media yang berbeda.

Ada banyak cara untuk mengasah keterampilan akan literasi media. Selain tingkat keterampilan yang disampaikan Baran di atas, mengutip Brunner & Tally (dalam Adiputra, 2006: 142), keterampilan literasi media dapat diaplikasikan melalui pertanyaan-pertanyaan kritis yang secara lengkap terangkum dalam tabel di bawah ini:

Aspek

Pertanyaan

Apa

Apa ide utama pesan media tersebut?Bagaimana obyek direpresentasikan?Bagaimana argument disusun?

Siapa

Apa sudut pandang yang diambil?Apa yang diharapkan produsen pesan pada audiens?

Pembuktian

Fakta atau informasi apa saja yang digunakan untuk mendukung argumen atau ide?Seberapa relevan atau sesuai informasi tersebut?

Style dan format

Bagaimana bentuk representasi yang ada? Termasuk dalam genre apa?Bagaimana pesan disampaikan? Melalui kata-kata, imaji, atau suara?

Audiens

Siapa audiens yang dituju?Bagaimana kemungkinan audiens merespons?

Representasi

Siapa kelompok atau subyek yang direpresentasikan, dan bagaimana?Apakah penggambaran kelompok atau subyek tersebut akurat, berlebihan, atau bias?

 

Membumikan Literasi Media

Pada masa di mana media telah masuk ke dalam seluruh sendi-sendi masyarakat, baik secara sosial dan kultural, hegemoni dan dominasi media menjadi hal yang tidak terelakkan. Untuk itu penting adanya sebuah pembacaan kritis atas media, itulah literasi media. Potter (2001: 3) membagi literasi media menjadi reading literacy, visual literacy, dan computer literacy. Dan kemampuan literasi media dapat diaplikasikan pada tiga jenis media tersebut, cetak (surat kabar, buku, majalah, dan tabloid) dan elektronik (televisi, radio, komputer, dan film).

Menjadi literated akan media (melek media) sangatlah penting mengingat perubahan zaman yang pesat sangat dipengaruhi oleh perkembangan media. Literasi media membantu untuk memberikan perspektif yang jelas atas batas antara dunia yang nyata (real world) dan dunia yang dibuat oleh media (media reality). Dan dengan menjadi melek media atau literate akan media, maka seseorang akan memiliki pemetaan yang jelas atas teks-teks dan pesan-pesan yang terdapat dalam media, sehingga itu akan membantunya untuk mendapatkan informasi yang diinginkan tanpa harus kebingungan.

Berdasarkan hal tersebut, maka literasi media seyogyanya tidaklah hanya menjadi sebuah wacana yang secara aktif dibahas dalam kerangka akademis. Melainkan menjadi sebuah agenda yang disebarluaskan pada masyarakat secara masif dan sporadik. Mengingat literasi media merupakan sekumpulan pengetahuan atau struktur pengetahuan (knowledge structures), maka terlebih dahulu yang harus dilakukan adalah mengembangkan struktur kemampuan yang mendasarinya. Untuk mengembangkan struktur kemampuan tersebut, dibutuhkan alat (tools) dan bahan dasar (raw material). Alatnya adalah kemampuan dasar itu sendiri sementara bahan dasarnya adalah informasi dari media dan dunia nyata yang kita miliki.

Potter (2001: 6) membagi struktur pengetahuan untuk membangun perspektif literasi media tersebut menjadi tiga kategori. Pertama, pengetahuan tentang isi/content media; kedua, pengetahuan tentang industri media; dan ketiga, pengetahuan tentang efek media. Tiga struktur pengetahuan ini dapat dikembangkan secara bergilir dan bertahap, namun tidak terpisah. Dalam artian bahwa pengetahuan tentang literasi media tidak dikembangkan secara terpisah seperti mempelajari visual literacy saja dan fokus pada struktur pengetahuan mengenai industri media. Namun literasi media dikembangkan sebagai sebuah rangkaian kesatuan pengetahuan di atas. Meminjam bahasa Potter, literacy media is a continuum, not a category.

Langkah paling awal untuk mengembangkan pengetahuan literasi media adalah memastikan bahwa masyarakat telah memiliki bahan dasarnya, yaitu informasi yang diakses dari media. Selanjutnya Potter (2001) menyatakan bahwa pengembangan literasi media dapat dilakukan melalui beragam strategi, yaitu:

  1. 1.   Personal strategy

Strategi yang pertama ini menggunakan pendekatan personal, yaitu pada pengembangan pengetahuan akan literasi media pada diri pribadi, tepatnya diri sendiri. Strategi ini menekankan pada keinginan dan kemauan kuat dari pribadi seseorang untuk terus mengembangkan pengetahuan dan kemampuan akan literasi media. Strategi personal dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu: mengembangkan kesadaran yang tepat atas terpaan media (media exposure), terus mempraktekkan keterampilan literasi media sebagai kewaspadaan atas terpaan media, mengerti pengetahuan dasar atas manfaat isi media, fokus pada perolehan manfaat dari isi media, membuat perbandingan antara satu media dengan yang lain, dan yang terpenting adalah mengubah prilaku ketika berhadapan dengan media.

  1. 2.   Interpersonal strategy

Strategi interpersonal lebih pada pendekatan antar individu dengan individu yang lain dalam sebuah hubungan untuk membantu penguatan keterampilan literasi media. Misalnya orang tua dan anak, orang tua membantu anak untuk memahami media secara kritis dengan perlahan-lahan. Strategi ini bisa dimulai dari aspek kognitif, kemudian pada tataran emosional, dan terakhir pada aspek prilaku.

  1. 3.   Societal strategy

Strategi sosial adalah strategi yang digunakan untuk mendorong kelompok sosial atau institusi seperti pemerintah dan LSM untuk turut serta dalam gerakan pengembangan kesadaran kritis publik atas media. Misalnya membawa permasalahan ini pada pemerintah dengan tujuan pembuatan regulasi atau membawa pada LSM untuk menjadi agen tetap diseminasi pengetahuan literasi media.

Tiga strategi ini dapat diaplikasikan dengan berbagai model, seperti penyuluhan, memasukkannya ke dalam kurikulum sekolah, menjadikan literasi media sebagai sebuah gerakan missal, dan sebagainya.

Literasi Media dan Reality Show

Membawa konsep literasi media pada kasus yang diangkat dalam tulisan ini, reality show, maka jelas bahwa literasi media digunakan sebagai dasar kritis untuk menilai tayangan reality show. Dengan memahami dan memiliki keterampilan literasi media, penonton akan menyadari kepentingan, nilai-nilai, ideology di balik tayangan reality show. Sehingga dalam memaknai tayangan, penonton tidak akan terjebak pada apa yang disodorkan produser media, dan mampu memaknainya secara berbeda dan melihat apa yang ada di balik tayangan tersebut.

Akhirnya, tidak perlu terjadi kebingungan pada diri penonton atas tayangan reality show karena mempermasalahkan kebenaran fakta yang diangkat dalam suatu tayangan. Dengan mengerti konsep literasi media, seluruh teks media yang sampai dan dikonsumsi oleh penonton diahami sebagai sebuah hasil konstruksi yang tidak pernah lepas dari proses representasi. Maka tidak peduli seberapa tinggi intensitas terpaan media terhadap masyarakat, menurunnya kualitas produk media, atau semakin dominannya kepentingan ekonomi politik dalam institusi media, selama masyarakat memahami literasi media dan menyadari pentingnya mengerti literasi media, masalah media dapat diminimalisir dengan maksimal.****


[3] ….media literacy is seen to consist of a series of communication competencies, including the ability to ACCESS, ANALYZE, EVALUATE, and COMMUNICATE information in a variety of forms, including print and non-print messages. Diakses dari situs National Association for Media Literacy Education di http://www.namle.net/media-literacy/definitions

[4] Mengacu pada apa yang ditulis oleh Pat Kipping, “Media literate people use the mediafor their own advantage and enjoyment”, dalam Why Teach Media Literacy, di http://www.media-awarness.ca/english/teachers/media_literacy/why_teach_media_liter.cfm

[5] John Pungente, Key Concepts of Media Literacy, dalam situs Center for Media Literacy di http://www.medialit.org/reading_room/article210.html

*Penulis adalah mahasiswa S2 Kajian Budaya dan Media Pascasarjana UGM. Beberapa kali terlibat dalam diskusi dan riset PKMBP.

Dipublikasi di Kajian Media | Tag , , | Tinggalkan komentar

Dari Realitas Tak Berjarak Sampai pada Identitas yang Dinamis: Media Baru, Remaja dan Kecakapan Bermedia*

Oleh: Wisnu Martha Adiputra**

Pengantar

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi sekitar satu dekade terakhir sangat cepat. Teknologi informasi dan komunikasi tidak hanya memperbaiki kerja media massa atau media lama, namun juga menghadirkan media baru yang semakin hadir di dalam kehidupan kita sehari-hari. Di luar pengaruh teknologi informasi dan komunikasi pada media, secara umum teknologi informasi dan komunikasi mengubah kehidupan sosial kita.

Kelompok usia yang paling terpengaruh dengan kemajuan tersebut adalah remaja. Tidak seperti kelompok usia dewasa, katakanlah dua puluh lima tahun ke atas, yang tidak sepenuhnya berada dalam kondisi dekat dengan media baru, remaja adalah “penduduk asli” di mana sejak lahir kehidupannya telah erat dengan media baru. Di Indonesia tiga bentuk media baru, yang dimulai oleh internet, hadir di tengah masyarakat sekitar pertengahan dekade 1990-an, handphone bisa diakses sekitar tahun 2000-an, dan game menjadi lebih mudah diakses dan online pada pertengahan tahun 2000-an.

Kini semua bentuk media baru tersebut tentu saja semakin canggih dan semakin dekat dengan kehidupan remaja dan kita semua. Banyak kesempatan yang diberikan oleh media baru, antara lain kemungkinan interaksi yang semakin luas dan sangat cepat. Selain itu sarana berekspresi semakin luas muncul sebagai akibat hadirnya media baru. Hal ini bisa dilihat dalam bentuk “Kreativitas” tanpa batas, misalnya: Justin Bieber, Susan Boyle, Sinta dan Jojo, juga Norman Camaru. Terlepas dari pro dan kontra, bagi sebagian orang media baru membuka jalan dan memperluas kesempatan untuk “tampil” dalam khalayak yang lebih luas.

Walau begitu, media baru yang menghadirkan kemungkinan baru, juga memunculkan berbagai problematika baru. Beberapa problematika tersebut adalah kasus pornografi yang semakin sering muncul, penipuan dan penghinaan kepada pihak lain, bahkan memicu penculikan seperti yang kita ketahui terjadi akhir-akhir ini. Konten pornografi misalnya, sangat mudah dicari di media baru. Perlu diketahui, bahwa pornografi berbeda dengan erotika walaupun kini artinya cenderung disamakan (lihat Bungin, 2001: 29). Erotika sudah sejak lama muncul di media, sementara bentuknya yang lebih vulgar, pornografi, adalah fenomena media modern, dan dibuka lebih luas lagi di era media baru.

Sampai-sampai ada komentar bahwa “lebih mudah mendapatkan gambar porno dibandingkan sebotol minuman” (Mahayoni & Lim, 2008: 23). Semua dampak negatif tersebut antara lain disebabkan oleh kecakapan bermedia baru (literasi digital) yang belum dipahami dan dimanifestasikan dengan baik dalam kehidupan.

Tulisan singkat ini mencoba mendiskusikan kehidupan bermedia remaja di era digital atau cara kita menyikapi remaja dalam menggunakan media baru. Pada bagian selanjutnya akan dipaparkan siapakah remaja itu, apa media baru, dan bagaimana kecakapan bermedia baru dihadirkan pada remaja dengan merujuk dua konsep kunci, yaitu: realitas yang tak berjarak dan identitas yang dinamis.

Siapa Remaja?

Cukup banyak definisi mengenai remaja, definisi tersebut antara lain menyebutkan bahwa remaja adalah masa transisi perkembangan seseorang antara masa kanak-kanak dan dewasa, yang pada umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal dua puluhan tahun (Papalia dan Olds dalam Jahja, 2011: 220). Walau begitu, usia remaja mungkin memiliki definisi yang berbeda dalam konteks kultural tertentu. Definisi mengenai remaja ada juga yang salah kaprah. Remaja sering dianggap fase usia yang “bukan-bukan”, yaitu bukan anak-anak dan bukan dewasa. Kesalahkaprahan ini pada akhirnya membuat kita selalu ambigu dalam menyikapi remaja, termasuk menyikapi mereka bermedia.

Melampaui berbagai definisi, bagaimana pun juga, remaja adalah fase usia yang penting sebelum menuju usia dewasa. Pada usia remajalah kemampuan memasuki kehidupan yang sebenarnya terbangun. Sayangnya, cara pandang kita sebagai orang dewasa cenderung tidak memadai. Remaja, dan juga kaum muda pada umumnya, seringkali dilihat sebagai youth-as-trouble, youth-in-trouble, dan fun – the ambiguity of youth (Hebdige dalam Barker, 2000: 321). Ambiguitas dalam memahami remaja masih galib terjadi dalam berbagai momen kehidupan. Remaja dianggap sebagai penerus sebuah generasi atau masyarakat, namun remaja juga dianggap sebagai pembawa “masalah”, ada di dalam masalah, atau hanya bersenang-senang.

Di dalam konteks ekonomi, remaja adalah target konsumen yang luar biasa banyak. Bisa dikatakan pasar untuk remaja adalah pasar terbesar sehingga aktivitas membeli, berbelanja dan mengkonsumsi sesuatu dianggap sebagai salah satu aktivitas remaja yang terpenting dan ditangkap oleh pengiklan dan media dalam slogan “buy, buy, baby” (Osgerby, 2004: 46). Lebih jauh lagi di kalangan remaja sendiri muncul slogan yang merupakan plesetan dari aforisme terkenal milik Rene Descartes, “Kamu berbelanja maka kamu ada”.
Pemaknaan remaja juga berubah dari tahun ke tahun. Kita bisa mengambil contoh pemaknaan remaja pada dekade 1980-an, 1990-an, 2000-an, dan 2010-an. Pada dekade 1980-an, remaja yang membaca buku dan pintar adalah hal yang biasa, namun hal tersebut berbeda dengan pemaknaan remaja pada dekade 1990-an. Pada dekade ini, remaja yang pintar dan senang membaca, kutu buku, dianggap aneh. Jadi, makna remaja yang “keren” memang berbeda dalam tiap kurun waktu. Kemungkinan makna remaja yang keren pada saat sekarang ini antara lain adalah remaja yang pandai mengakses media baru dan dekat dengan perkembangan teknologinya.

Di dalam kaitannya denga media baru, remaja bisa dilihat dari tiga cara pandang, yaitu: remaja sebagai pengakses pesan media baru, remaja sebagai produsen dan kreator pesan media baru, dan remaja yang tampil di dalam pesan media baru. Remaja sebagai pengakses pesan adalah hal yang paling umum muncul karena memang pengguna media baru terbesar adalah remaja. Sementara remaja sebagai pencipta pesan sudah mulai cukup banyak, antara lain remaja yang memproduksi pesan di blog dan kreator program game. Terakhir, remaja yang tampil di dalam pesan media baru, adalah cara pandang kita ketika kaum remaja direpresentasikan di media baru yang sangat mirip dengan representasi di media lama.

Media Baru: Menjadi Digital

Ketika kita membicarakan remaja digital sesungguhnya kita membicarakan cara remaja bereksistensi dalam kehidupan bermedia baru. Walau begitu, apa sebenarnya media baru itu? Definisi mengenai media baru juga cukup banyak, namun cara yang terbaik mendefinisikannya adalah dengan melihat perubahan yang dibawa oleh media baru. Perubahan yang dikaitkan dengan munculnya media baru adalah: digitalization and convergence of all aspects of media, increased interactivity and network connectivity, mobility and delocation of sending and receiving, adaptation of publication and audience roles, appearance of diverse new forms of media “gateaway”, dan fragmentation and blurring of the “media institution (McQuail, 2010: 141). Lebih jauh McQuail menjelaskan bahwa media baru juga terbagi lima macam bila dikaitkan dengan konteks dan penggunaannya, yaitu: media komunikasi interpersonal, media permainan interaktif, media pencari informasi, media partisipasi kolektif, dan media substitusi penyiaran (2010:144).

Walau definisi media baru cukup banyak namun secara riil bentuk media baru dapat dilihat pada tiga bentuk yang utama, yaitu internet, game, dan handphone walau pun pada akhirnya ketiganya kemudian menggabungkan fungsinya masing-masing. Internet adalah bentuk media baru yang sangat bergantung pada jaringan komputer di seluruh dunia, sementara bentuk dari game sebagai media baru sangat mudah diamati pada “alat” permainannya, yaitu game konsol seperti Sega, Playstation, dan X-Box. Sementara itu, handphone pun sudah berkembang jauh dengan kehadiran “smart phone”, yang menggabungkan banyak fungsi media baru yang lain. Pada akhirnya ketiga platform tersebut menyatu. Hal ini bisa dilihat antara lain melalui kemunculan game online, VOIP, dan komunitas blog.

Selanjutnya, kembali kita memperdalam ketiga jenis media baru tersebut. Pertama, internet. Internet seringkali disamakan artinya dengan media baru. Internet adalah media baru dan media baru adalah internet, padahal internet adalah salah satu bentuk media baru. Biaya untuk mengakses internet relatif murah, sementara internet dapat memiliki beragam fungsi lain, inilah yang merupakan kelebihan dari internet. Fenomena situs jejaring sosial, blog dan video sharing adalah contohnya. Aktivitas nge-blog misalnya, pernah dianggap sebagai aktivitas sosial yang memiliki dampak sangat baik bagi masyarakat. Blogging atau aktivitas memproduksi pesan di blog dianggap sebagai new paradigm for modern human communication, conversation, argument, and collaborative knowledge creation (Kline & Burstein, 2005: xiv). Anggapan yang dulu terlalu optimistik dan hampir terbukti bahwa remaja sebagai pengakses internet tidak terlalu senang menulis pesan di blog yang relatif panjang.

Hal ini terlihat ketika remaja mengakses situs jejaring sosial. Apa sebenarnya pesan yang mereka produksi selain tulisan sangat pendek sebagai status dan komentar di dalamnya? Pertanyaan yang alternatif jawabannya masih perlu dikaji dan untuk itulah pembelajar dan akademisi media baru di Indonesia perlu memperdalam telaah bersama untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik.

Media baru yang kedua adalah game. Game adalah bentuk media baru yang sangat dekat dengan remaja sementara orang dewasa dianggap bukan sebagai pengakses game karena lebih dianggap sebagai bentuk hiburan dan sarana menghabiskan waktu luang. Game diidentikkan untuk anak-anak dan remaja padahal game juga ditujukan untuk beragam fase umur. Pada titik inilah berawal kesalahkaprahan orang dewasa dalam melihat game. Karena game dianggap sudah sesuai untuk remaja, orang tua tidak mengawasi akses anaknya terhadap game padahal cukup banyak game yang mengandung unsur kekerasan dan pornografi, serta hanya ditujukan untuk orang dewasa.

Kini fenomena mengakses game melalui konsol mulai beralih ke game online karena konsol game terbaru semakin mahal dan tak bisa dibajak sementara game online hadir di mana-mana dan relatif mudah untuk diakses. Banyaknya rekan-rekan usia sebaya yang mengakses game juga menyebabkan remaja sangat tertarik dengan game, terutama game online karena bisa dimainkan bersama-sama. Selain itu, kini game juga bisa diakses melalui handphone dan konsol mini. Hal inilah yang menjadikan remaja sangat dekat dengan game.

Ketiga, handphone. Handphone juga sangat dekat dengan remaja. Pertumbuhan kepemilikan handphone pada remaja yang sangat cepat. Orang dewasa menguasai fungsi-fungsi mendasar handphone. Remaja lebih daripada menguasai fungsi tetapi juga menguasai “bahasa simbolik” atas handphone (Ling, 2004: 83). Kini handphone juga berkombinasi dengan fungsi banyak media, lama maupun baru.

Kecakapan Bermedia Baru atau Literasi Digital

Setiap jenis media selalu memerlukan kecakapan dalam mengaksesnya. Walau seringkali tidak disadari oleh individu, setiap media selalu “mensyaratkan” kecakapan. Secara umum terdapat tiga jenis kecakapan bermedia yaitu literasi (melek huruf), yang berkaitan dengan media cetak. Dua kecakapan yang utama dalam jenis ini adalah membaca dan menulis, literasi media (melek media), untuk media penyiaran dan film atau pesan media yang berbentuk audio visual, dan literasi digital, yaitu kecakapan yang berkaitan dengan media baru. Diharapkan remaja memiliki kecakapan ini ketika mengakses internet, game, dan handphone.

Kini kita mencoba mendiskusikan ketiga jenis kecakapan bermedia tersebut dengan lebih mendalam dan memberi titik tekan pada literasi digital. Pertama, literasi atau sering juga disebut melek huruf. Penulis sendiri tidak setuju dengan padanan tersebut karena istilah melek huruf memberikan makna seolah-olah kecakapan untuk media cetak ini tidak bersifat aktif. Literasi sendiri sudah cukup lama dikenal oleh akademisi ilmu komunikasi dan digunakan sebagai indikator pembangunan pada dekade 1960-an sampai 1980-an. Hal ini misalnya saja bisa dilihat dari tingkat literasi per seribu penduduk untuk menentukan keberhasilan sebuah program komunikasi pembangunan. Aktivitas kampanye literasi masih dilakukan hingga kini, antara lain kampanye yang dilakukan oleh WAN (World Association of Newspaper) untuk pembaca suratkabar remaja dan oleh majalah sastra Horizon yang bernama program Kaki Langit, untuk remaja pencinta sastra.

Kedua, literasi media. Sejatinya konsep ini dilansir untuk media audio visual, yaitu televisi dan film, namun kini digunakan untuk semua media. Hal yang paling berkontribusi bagi pemahaman kita saat ini adalah konsep yang dirilis oleh James Potter, seorang akademisi yang cukup intens mengkaji literasi media, yaitu tujuh jenis kecakapan. Ketujuh jenis kecakapan yang berkaitan dengan pesan media tersebut adalah (Potter, 2004: 124) :
• Analysis: breaking down a message into meaningful elements
• Evaluation: judging the value of an elements; the judgement is made by comparing the element of some criterion
• Grouping: determining which elements are alike in some way; determining which elements are different in some way
• Induction: inferring a pattern across a small set of elements, then generalizing the pattern to all elements in the set
• Deduction: using general principles to explain particulars
• Synthesis: assembling elements into a new structure
• Abstracting: creating a brief, clear, and accurate description capturing the essence of message in a smaller number of words than the message itself

Terakhir, kecakapan bermedia baru atau literasi digital. Selain memiliki tujuh kecakapan yang sudah disebutkan sebelumnya, literasi digital juga mensyaratkan munculnya beberapa pemahaman berkaitan dengan media baru, yaitu pemahaman bahwa konsekuensi pesan dalam media baru bersifat personal sekaligus publik, pesan media baru yang konvergen, dan media baru merupakan penghubung bagi partisipan komunikasi dari mana saja.

Konsekuensi Media Baru: Realitas, Jaringan dan Identitas

Lalu apa konsekuensi dari media baru? Seperti halnya media lama yang memiliki ragam konsekuensi, juga demikian halnya dengan media baru. Pada esensinya, terdapat tiga konsekuensi pada media baru, yaitu pada realitas, jaringan dan identitas. Pertama, konsekuensi pada realitas, media baru menjadikan realitas tak berjarak. Bila media lama atau media massa memberikan efek mediasi terhadap realitas, media baru memberikan remediasi. Remediasi sendiri terdiri dari dua jenis, yaitu imediasi atau tanpa mediasi dan hipermediasi atau mediasi yang “berlebihan”. Realitas tak berjarak ini terutama muncul pada game. Game memberikan konsekuensi yang unik, yaitu hipermediasi yang bisa berdampak negatif maupun positif. Hal ini bisa disebut “tegangan realitas”. Seorang pengakses remaja mungkin mengalami salah satu dari konsekuensi ketika mengakses game, yaitu kecanduan atau menjadi sangat pintar karena game. Riset yang relatif baru menunjukkan bahwa game ternyata berdampak positif (Beck & Wade, 2007). Temuan riset ini berbeda dengan pemahaman umum bahwa game membuat remaja malas belajar dan tidak mau bersosialisasi padahal game bisa berdampak sebaliknya, yaitu membuat remaja menjadi lebih aktif mengambil tindakan dan bekerja secara kolaboratif.
Kedua, adalah jaringan tanpa batas. Hal ini terutama terlihat di dalam internet dalam bentuk situs jejaring sosial. Situs jejaring sosial memungkinkan remaja untuk berkolaborasi dan berkreasi tanpa batas. Situs jejaring sosial menjadi media utama atau pendukung bagi aktivitas sosial remaja. Mereka tidak diharuskan bertemu secara fisikal dan dapat berkreasi secara berjauhan. Banyak sekali kemungkinan baru yang dimunculkan oleh media baru, kerjasama kolaboratif tersebut bahkan bisa terkait secara global dengan aktivitas remaja lain di banyak belahan dunia. Di Yogyakarta misalnya dikenali beberapa komunitas anak muda yang menggunakan media baru untuk beragam aktivitas yang positif, yaitu cah andong, daging tumbuh, dan berbagai komunitas film dokumenter.
Ketiga, adalah konsekuensi pada identitas yang dinamis. Identitas yang ada di media baru adalah identitas yang cair dan bisa dipilih, tidak seperti di media massa yang cenderung statis, terepresentasi dan pasif. Identitas sendiri adalah konstruksi yang kompleks, yang berkaitan dengan gender, dan etnisitas (Gauntlett, 2002:13), juga kelas sosial dan usia adalah empat di antara banyak elemen pembentuknya. Melalui media baru remaja bisa mengenalkan identitas yang lain yang lebih positif dibandingkan dengan asumsi tentang identitas yang berkembang di masyarakat sejauh ini. Media baru memiliki potensi besar untuk menjadi remaja lebih baik dan belajar bersama, juga representasi yang lebih positif dan mencerahkan.
Dengan demikian, remaja di era digital mestilah menjadi remaja yang memiliki kecakapan bermedia yang baik, terutama untuk literasi digital. Slogan “learn, play, socialize, participate” memang sangat dekat dengan media baru, tinggal bagaimana remaja memanfaatkannya dan tentunya, tinggal bagaimana orang dewasa memberikan fasilitasi yang bagus. Melalui media baru, remaja dapat belajar dengan cara yang luar biasa. Media baru bisa menjadi sumber daya yang luar biasa, sumber pengetahuan relatif murah dan tak terbatas, tempat belajar yang menyenangkan dan fasilitator yang demokratis. Media baru juga dapat menjadi arena bermain untuk berlatih hidup yang sesungguhnya di dunia nyata. Misalnya saja remaja dapat bermain bersama secara simultan melalui MMORPG (Massively Multiplayer Online Role-Playing Game) yang memiliki potensi luas untuk saling berinteraksi dengan banyak sekali individu dari seluruh dunia (Wolf & Perron (Eds.), 2003:11).
Selain itu, media baru memberikan potensi untuk bersosialisasi, mempelajari nilai-nilai positif dan juga belajar berinteraksi dengan santun dan kolaboratif. Hal ini terutama muncul dalam berbagai komunitas blog dan milis sesuai minat dan ketertarikan. Terakhir, media baru dapat membuat remaja berpartisipasi dalam kehidupan sosial secara lebih baik. Remaja akan lebih mudah memahami visi kepublikan melalui media baru, yaitu keterbukaan, kebersamaan dan berguna bagi sebanyak mungkin individu. Aktivitas Coin for Bilqis, Coin for Prita, dan Gerakan 1001 Buku, adalah beberapa contohnya.

Catatan Penutup
Pertanyaan terakhir sebagai penutup, apa yang seharusnya kita lakukan agar remaja digital, yaitu remaja yang memiliki literasi digital yang baik muncul di tengah masyarakat kita? Pertama, menguatkan kecakapan bermedia, terutama untuk media baru, pada remaja. Hal ini bisa dikenalkan di rumah melalui orang tua dan sekolah melalui guru dan fasilitator yang memahami cara mengenalkan literasi digital. Media baru telah menjadikan tempat tinggal menjadi sarana belajar dan menghibur diri bagi semua anggota keluarga (Livingstone, 2002: 19), sungguh sayang bila media baru tidak dimanfaatkan dengan optimal. Seringkali orang tua membelikan gadget namun kemudian meninggalkan remaja tanpa menemaninya belajar melalui media baru tersebut.
Kedua, menggunakan karakter media baru untuk berinteraksi dengan remaja. Remaja melihat media baru sebagai kesempatan yang terbuka, egaliter dan menyenangkan. Karakter demikianlah yang semestinya dikembangkan oleh kita semua agar remaja memahami media baru dengan baik. Selain itu, kita harus menganggap remaja adalah mitra. Remaja bukanlah anak-anak atau orang dewasa, dengan demikian remaja mesti diperlakukan sebagaimana usia mereka. Bila remaja adalah mitra, orang dewasa adalah fasilitator. Orang dewasa tinggal membuatkan tempat belajar atau menunjukkannya di dunia baru. Tanggung-jawab orang dewasa ini kemudian tidak hanya berada di “dalam” rumah namun meluas pada masyarakat sekitar. Hal inilah yang dilakukan oleh Kampung Cyber di Yogyakarta yang menjadikan media baru sebagai cara untuk belajar dan meningkatkan kehidupan bersama. Bagaimana pun juga, kini kita berumah di media baru.

 

==========================

* Tulisan ini dipresentasikan dalam Seminar Nasional “Remaja Digital”, Surakarta, 20 Juli 2011. Seminar diselenggarakan oleh Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Surakarta dan Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia). Diposting ulang dari http://wisnumartha14.blogspot.com/2011/08/dari-realitas-tak-berjarak-sampai-pada.html

**peneliti di Pusat Kajian Media dan Budaya Populer dan dosen pengajar di Jurusan Ilmu Komunikasi UGM.

Dipublikasi di Kajian Media | Tinggalkan komentar

Tinjauan Buku: Teori Budaya

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Judul Buku                  : Teori Budaya

Penulis                         : David Kaplan dan Robert A. Manners

Penerbit                       : Pustaka Pelajar (edisi terjemahan), cetakan III 2003

Reviewer                     : Puji Rianto

Ada banyak bukti yang semakin nyata bahwa studi-studi mengenai budaya mulai menarik dan tidak lagi menjadi “domain” khusus para antropolog. Dalam kajian media dan komunikasi, muncul berbagai sudut pendekatan baru yang berusaha meletakkan budaya sebagai suatu perspektif untuk memahami media dan komunikasi. Douglas Kellner (2010), misalnya, membahas berbagai soal yang ia lekatkan dalam budaya media. Budaya media ini terdiri atas sistem radio dan reproduksi suara (album, kaset, CD, dan alat persebaran mereka seperti radio, kaset perekam, dan seterusnya); dari film dan bentuk-bentuk penyebarannya (pementasan bioskop, persewaan kaset video, tayangan tv); media cetak yang meliputi koran dan majalah; hingga sistem televisi yang berdiri di pusat budaya media (Kellner, 2010: 1). Di aras yang lain, muncul suatu perspektif baru dalam memahami komunikasi-yang meskipun tampaknya merupakan pendekatan yang lebih bersifat pragmatis, yakni komunikasi antarbudaya dan multicultural pubic relations.

Studi budaya menjadi semakin diminati bersamaan munculnya cultural studies. Seperti dikemukakan Thwaites, Davis, dan Mules (2009: 1), “Jika memang jelas bahwa cultural studies melibatkan pengkajian budaya, maka perkara yang berangkali begitu jelas justru apakah budaya itu?” Thwaites, Davis, dan Mules lantas mendefinisikan budaya sebagai kumpulan praktik sosial yang melaluinya makna diproduksi, disirkulasikan, dan dipertukarkan (ibid). Oleh karenanya, budaya dalam cultural studies lebih dipahami sebagai situs produksi makna, bukan ekspresi makna yang ada di tempat lain (Thwaites, Davis, dan Mules, 2009: 2). Menurut Thwaites, Davis, dan Mules, makna ini muncul di dalam dan melalui relasi sosial, relasi diantara orang-orang, kelompok, kelas, institusi, struktur dan benda. Kemudian, oleh karena makna itu diproduksi, disirkulasi, dan dipertukarkan dalam dunia sosial maka makna tidak pernah tetap sepenuhnya.

Kemunculan budaya baik sebagai objek kajian ataupun perspektif tak pelak membuatnya menjadi topik kajian yang semakin luas diterima dan dipelajari. Setidaknya, meskipun budaya masyarakat tetap menjadi fokus kajian antropologi yang penting, tapi perkembangan berikutnya menampakkan wujud yang lebih luas tentang minat orang tentang budaya. Berbagai faktor bisa diidentifikasi sebagai penyebab hal itu, diantaranya adalah perkembangan ekonomi politik dan intelektual. Dari sisi ekonomi politik, globalisasi dunia tampaknya menjadi salah satu pendorong bagi usaha untuk memahami perbedaan-perbedaan budaya yang ada untuk tujuan-tujuan tertentu yang spesifik. Orang-orang komunikasi, public relations, dan orang-orang bisnis belajar budaya demi memperlancar usaha mereka. Di sisi lain, studi budaya menjadi penting guna mendorong “pemahaman” yang lebih luas sebagai akibat pertemuan-pertemuan budaya diantara kelompok-kelompok budaya yang berbeda. Pertemuan tersebut sering kali berbenturan, yang membuat relasi diantara kelompok-kelompok menjadi tidak nyaman bahkan konfliktual. Mobilitas penduduk yang semakin masif sebagai akibat semakin rendahnya biaya transportasi membuat “pertemuan-pertemuan” antarkelompok dalam masyarakat itu dalam suatu negara maupun antarnegara menjadi semakin sering terjadi. Oleh karenanya, studi antarbudaya diorientasikan satu diantaranya untuk memahami budaya-budaya yang berbeda tersebut untuk akhirnya menuju ke arah hubungan yang saling menghormati satu dengan yang lain. Studi budaya juga menjadi sedemikian menarik dan-pada tataran tertentu-“menghebohkan” sebagai akibat kemunculan cultural studies. Suatu gerakan politik dan sekaligus-dalam pemahaman saya-perkembangan akademik yang membuat studi budaya menjadi semakin luas diterima. Dalam situasi semacam itu, kebutuhan akan perspektif teoritis akan menjadi demikian penting. Oleh karenanya, menjadi tidak mengherankan jika buku Kaplan dan Manners –untuk edisi terjemahan-telah mengalami cetak sebanyak 3 kali sejak pertama kali edisi terjemahan itu tahun 1999. Meskipun Kaplan dan Manners tidak menulis buku ini guna menjawab situasi itu, tapi membaca buku Teori Budaya dalam situasi dan konteks semacam itu jelas akan jauh lebih menarik.

Tinjauan Umum Isi Buku
Buku Teori Budaya yang ditulis oleh David Kaplan dan Robert A. Manners ini dibagi ke dalam lima bab. Penulisan setiap bab disusun berdasarkan rangkaian bab yang runtut sehingga akan menjadi sulit jika pembacaan buku ini dilakukan secara melompat-lompat. Ini karena selain pembahasan setiap materi dilakukan secara berjenjang, tidak jarang Kaplan dan Manners merujuk pembahasan sebelumnya untuk suatu konsep khusus dalam bab berikutnya. Hal ini mendorong pembaca untuk mau tidak mau membuka kembali halaman-halaman sebelumnya.

Pada bab pertama, Kaplan dan Manners membahas metode dan pokok-pokok soal penyusunan teori dalam antropologi. Menurut Kaplan dan Manners (2003: 2), pokok-pokok soal yang diperhatikan antropolog dapat diringkas menjadi dua pertanyaan besar, yang saling terkait satu dengan yang lain, yakni (1) bagaimanakah bekerjanya berbagai sistem budaya yang berbeda-beda?; dan (2) bagaimanakah sistem-sistem budaya yang beraneka ragam itu menjadi seperti keadaannya kini? Seperti dijelaskan Kaplan dan Manners, kedua pertanyaan atau pokok soal ini pada dasarnya hendak mengupas persamaan dan perbedaan diantara budaya-budaya yang ada sekarang ini. Upaya untuk menjelaskan persamaan dan perbedaan ini kemudian berujung pada perbedaan-perbedaan orientasi teoritik dan kerangka metodologi yang dijelaskan Kaplan dan Manners dalam bab-bab berikutnya. Seperti dikemukakan Kaplan dan Manners (hal. 3), “Masalah utama dalam antropologi adalah menjelaskan kesamaan dan perbedaan budaya, pemeliharaan budaya maupun perubahannya dari masa ke masa”. Hanya dengan mempelajari mekanisme, struktur, dan sarana-sarana di luar diri manusia-yakni alat yang digunakan manusia untuk mentransformasikan dirinya sendiri-menurut Kaplan dan Manners, dapat diketahui alasan perbedaan keyakinan, nilai, perilaku, dan bentuk sosial antara kelompok satu dengan kelompok lainnya.

Seperti dapat dilihat dalam kenyataan budaya manusia, masing-masing masyarakat mempunyai budayanya sendiri-sendiri yang seringkali unik. Jika budaya kita definisikan sebagai-secara sederhana-cara berfikir dan bertindak, maka hampir setiap kelompok masyarakat mempunyai perbedaan-perbedaan dalam hal itu disamping persamaan yang dimiliki. Pokok persoalannya adalah bagaimana para antropolog menjelaskan perbedaan-perbedaan itu. Menurut Kaplan dan Manners (hal 5-6), ada dua corak antropolog yang memandang perbedaan sebagai sesuatu yang ada begitu saja sebagai fenomen untuk dicatat, atau sebagai variasi-variasi dalam suatu tema besar yang bernama relativisme budaya. Kelompok kedua adalah antropolog yang melihat bahwa keragaman budaya tidak dipandang sebagai fenomen untuk sekedar dicatat, melainkan dipersoalkan juga alasan penjelasannya. Dengan kata lain, menurut Kaplan dan Manners, kelompok kedua ini menuntut adanya teori. Di sini, Kaplan dan Manners lantas membahas perbedaan-perbedaan dan juga persamaan antara relativisme dengan perbandingan.

Ulasan berikutnya dari Kaplan dan Manners pada bab ini adalah bagaimana teori-teori dirumuskan. Di sini, Kaplan dan Manners (hal. 15) mengemukakan bahwa sebuah teori harusnya mempunyai fungsi ganda, yakni menjelaskan fakta yang sudah diketahui dan kedua membuka celah pemandangan baru yang dapat mengantar kita menemukan fakta baru pula. Dalam antropologi, sebagaimana dijelaskan Kaplan dan Manners, teori bisa dibentuk dalam dua cara, yakni verstehen dan historisitas/kesejarahan.

Setelah membahas pokok soal dan pendefinisian teori, pada bab dua, Kaplan dan Manners mempertajam diskusi pada bab pertama dengan menjelaskan orientasi teoritik. Di sini, Kaplan dan Manners mengemukakan adanya empat pendekatan atau orientasi teoritik, yakni evolusionisme, fungsionalisme, sejarah, dan ekologi budaya. Di sini, Kaplan dan Manners tidak menggunakan istilah metodologi ataupun teori karena, menurutnya, keempatnya lebih dari sekedar metodologi formal, tapi belum merupakan teori yang utuh dan lengkap.

Pada bab dua, Kaplan dan Manners melakukan penjelajahan atas berbagai orientasi teoritik yang relatif kaya. Paparan dimulai dari orientasi teoritik evolusionisme abad kesembilan belas dengan mengutip beberapa karya buku yang ditulis oleh, misalnya, Robert A. Nisbet, Morgan dan Tylor, dan juga Idus Murphree. Kaplan dan Manners kemudian melangkah lebih jauh dengan membahas tokoh-tokoh dan pikiran mutakhir dari evolusionisme V. Gordon Childe, Leslie A. White, dan Julian Steward. Dari Childe, Kaplan dan Manners belajar bagaimana rekaman arkeologis menunjukkan bahwa keseluruhan pola perubahan bersifat evolutif dan progresif (hal. 59). Sementara dari White, Kaplan dan Manners belajar bagaimana budaya merupakan piranti adaptasi bagi manusia untuk berakomodasi terhadap alam dan mengadaptasikan alam padanya. Manusia, menurut White (Kaplan dan Manners, hal. 61), dapat mengadakan representasi simbolik tentang dunia bagi dirinya sendiri sehingga mampu mentransendensikan pengalaman indrawinya sendiri. Jika White seorang evolusionisme universsal dalam bahasa Steward, maka Steward melangkah ke dalam analisis yang lebih khusus dengan melihat kesamaan-kesamaan struktural (Kaplan dan Manners, hal. 64).

Orientasi teoritik berikutnya yang dibahas Kaplan dan Manners pada bab dua adalah fungsionalisme. Fungsionalisme sebagaimana dikemukakan Kaplan dan Manners sebagai perspektif teoritik dalam antropologi yang bertumpu pada analogi dengan organisme. Artinya, menurut Kaplan dan Manners, ia membawa kita memikirkan sistem sosial-budaya semacam organisme yang bagian-bagiannya tidak hanya saling berhubungan, tapi juga memberikan andil bagi pemeliharaan, stabilitas, dan kelestarian hidup “organisme” (hal. 77). Dengan kata lain, menurut Kaplan dan Manners, semua sistem budaya memiliki syarat-syarat fungsional tertentu untuk memungkinkan eksitensinya (hal. 77-78). Dalam menjelaskan fungsionalisme ini, Kaplan dan Manners merujuk beberapa pemikir sosial yang sudah sangat dikenal seperti Malinowski, Radcliffe-Brown dan juga Robert K. Merton.

Orientasi teoritik berikutnya yang dibahas Kaplan dan Manners adalah sejarah. Di sini, sebagaimana dijelaskan Kaplan dan Manners, barangkali, akan muncul banyak perdebatan mengenai orientasi teoritik ini. Meskipun demikian, Kaplan dan Manners memberikan penjalasan bahwa pada dasarnya karya sejarawan dan etnograf melaksanakan kerja metodologis yang sama (hal. 93). Dalam hal ini, Kaplan dan Manners mengemukakan, “Sebabnya, jika kita bedakan pengamatan kasar etnografi di lapangan dengan laporan yang kemudian ditulisnya berdasarkan amatan itu maka tampak jelas bahwa etnograf menempuh proses yang sangat mirip dengan proses yang ditempuh sejarawan”.

Persoalannya kemudian dimanakah perbedaan diantara keduanya? Kaplan dan Manners menjawab dengan mengemukakan bahwa perbedaan antara analisis historis dan geografis ialah terutama bersumber pada minat keduanya terhadap budaya-budaya tertentu yang dipandang sebagai sistem konkret dalam waktu dan ruang; perbedaan itu bukan karena keduanya tidak sama-sama mengarahkan minat pada masa lampau (hal. 94). Kemudian, untuk menjelaskan orientasi teoritik ketiga ini, Kaplan dan Manners merujuk tokoh-tokoh historis seperti Franz Boas yang kemudian melahirkan antropolog-antropolog seperti Alfred Kroeber, Robert Lowie, Edward Sapir, dan masih banyak lagi. Tesis utama Boas adalah, sebagaimana dikutip Kaplan dan Manners (hal. 95), semua budaya terbentuk dari sekumpulan ciri perangai (traits) yang rumit dan merupakan akibat dari kondisi lingkungan, faktor psikologis, dan kaitan historis. Kemudian, dengan mengandalkan secara khusus kajian-kajiannya mengenai lingkup wilayah penyebaran mite, kisah rakyat, dan folklore, Boas berada pada kesimpulan bahwa unsur-unsur suatu budaya merupakan produk proses historis yang rumit dan banyak melibatkan penyebaran serta pengambilalihan perangai serta kompleks perangai dari budaya lain di sekitarnya (Kaplan dan Manners, hal. 97).

Orientasi teoritik terakhir yang dibahas oleh Kaplan dan Manners adalah ekologi budaya. Menurut Kaplan dan Manners (hal. 102), suatu ciri dalam ekologi budaya ialah perhatian mengenai adaptasi pada dua tataran, yakni (1) sehubungan dengan cara sistem budaya beradaptasi terhadap lingkungan totalnya; dan (2)-sebagai konsekuensi adaptasi sistemik itu-perhatian terhadap cara institusi-institusi dalam sesuatu budaya beradaptasi atau saling menyesuaikan diri. Pada bagian ini, Kaplan dan Manners lebih jauh mengupas konsep lingkungan dan adaptasi yang menjadi kata kunci dari orientasi teoritik ekologi budaya.

Kaplan dan Manners melanjutkan diskusi orientasi teoritik ini pada bab dua mengenai tipe-tipe teori budaya ini, yang menurut saya sedikit lebih abstrak. Diskusi mengenai teori jelas merupakan suatu hal penting karena, seperti dikemukakan Larry Laudan (dikutip dari Miller, 2005: 24), fungsi utama teori adalah untuk memecahkan masalah. Laudan mengemukakan, “the first and essential acid test for any theory is whether it provides acceptable answers to interesting question; whether, in onther words, it provides satisfactory solutions to important problem”. Suatu teori yang bagus mampu menyediakan penjelasan, pernyataan mengenai bagaimana variabel-variabel berhubungan satu dengan yang lain dan tidak hanya berhenti pada konsep (Littlejohn, 1996: 24). Teori membantu kita memahami atau menjelaskan fenomena yang kita amati dalam dunia sosial (Miller, 2005: 22). Dalam antropologi, seseorang yang berusaha menjelaskan berbagai data lapangan memerlukan seperangkat konsep dan konstruk yang tidak didapatnya dari pengamatan langsung (Kaplan dan Manners, hal. 124). Sebaliknya, menurut Kaplan dan Manners, ia mengambil dari “gudang senjata” intelektual yang menyimpan temuan-temuan bidang antropologi dan disiplin-disiplin yang sekaum. Seperti dijelaskan Kaplan dan Manners, konsep dan konstruk itu memainkan peran penting dalam menentukan cara antropolog dalam memilih segi budaya tertentu yang dijadikannya pusat perhatian. Di sini, Kaplan dan Manners mengemukakan bahwa konsep atau konstruk yang digunakan antropolog dalam mengkategorisasi dan menjelaskan data lapangan merupakan suatu subsistem yang dikenal sebagai ideologi, struktur sosial, teknoekonomi, dan kepribadian. Di sini, subsistem didefinisikan sebagai seperangkat variabel atau aspek perilaku yang terlembagakan dan secara analitis dapat kita sendirikan guna memberikan penjelasan-sekurang-kurangnya penjelasan parsial-mengenai cara masyarakat memelihara dirinya sendiri dan juga melaksanakan perubahan (Kaplan dan Manners, hal. 124).

Tipe teori pertama, budaya teknoekonomi, menjelaskan perubahan-perubahan teknologi telah mempengaruhi bagaimana transformasi budaya terjadi. Untuk menjelaskan tipe teori ini, Kaplan dan Manners merujuk pada karya-karya Lauritson Sharp tentang pergantian kapak batu menjadi kapak baja di kalangan suku Yir-Yaront, pemburu peramu di Cape York, Australia. Sebagaimana dikutip Kaplan dan Manners, Sharp menunjukkan bahwa perkenalan kapak baja telah membawa perubahan dramatik dalam bidang “gagasan, sentimen, dan nilai-nilai tradisional, dan betapa hal itu menjadi sumber stress kejiwaan serta “mengubah watak hubungan antara individu dengan individu lain” maupun antaranggota kelompok, dan dengan suku-suku sekitar (hal. 131). Kaplan dan Manners juga mengutip penelitian Meyer Nimkoff dan Russel Middleton yang menemukan tipe-tipe keluarga berbeda sebagai akibat penataan ekonomi tertentu.

Tipe teori budaya berikutnya adalah struktur sosial. Diantara tipe-tipe teori budaya yang ada tampaknya struktur sosial ini yang menjadi sangat menarik karena bermuara pada tokoh-tokoh sentral dalam antropologi seperti Levi Strauss. Mengutip Radcliffe Brown, Kaplan dan Manners mendefinisikan struktur sosial sebagai pengaturan kontinu atas orang-orang dalam kaitan hubungan yang ditentukan atau dikendalikan oleh institusi, yakni norma atau perilaku yang dimapankan secara sosial (hal. 139). Dalam menganalisis budaya suatu masyarakat, kiranya, tipe teori struktur sosial ini tak asing lagi dan mudah ditemukan dalam banyak penelitian.

Berikutnya adalah ideologi. Seperti halnya budaya yang menemukan definisinya yang beragam, ideologi juga mengalami hal kurang lebih sama. Meskipun begitu, ideologi telah menjadi alat analisis sosial yang banyak digunakan untuk membongkar praktik-praktik sosial politik dalam suatu masyarakat. Jika ideologi dipahami sebagai, dalam pengertian lebih modern dan sempit, sistem gagasan yang dapat digunakan untuk merasionalisasi, memberikan teguran, memaafkan, menyerang atau menjelaskan keyakinan, kepercayaan, tindak, atau pengaturan kultural tertentu, (Kaplan dan Manners, hal. 154) maka tampaknya tidak ada suatu kelompok masyarakat yang bisa terhindar dari ideologi.

Meskipun begitu, merujuk Spiro, Kaplan dan Manners mengemukakan bahwa faktor ideologis mempengaruhi komponen budaya melalui proses pengkondisian psikologis, yakni melalui dampak gagasan terhadap perilaku manusia yang ternyata landasan teoritiknya sungguh-sungguh goyah.

Bagian terakhir bab tiga adalah kepribadian sebagai matra sosial dan psikobiologis. Dari kubu keempat ini, para antropolog memandang kepribadian mempunyai arti penting dalam telaah tentang stabilitas dan perubahan budaya (Kaplan dan Manners, hal. 172). Di sini, Kaplan dan Manners mengajukan dua pokok persoalan ketika seorang antropolog hendak menjelaskan variabel kepribadian dan fenomena kultural. Pokok soal pertama sebagaimana dikemukakan Kaplan dan Manners (hal. 173-174), adalah apakah variabel kepribadian harus ditinjau sebagai bagian integral sistem budaya yang bersangkutan, yang setara dengan variabel-variabel ketiga subsistem lainnya ataukah ditinjau sebagai sesuatu yang secara analitis bersifat ekternal terhadap budaya itu hingga mempunyai makna kausal? Kedua, jika variabel-variabel kepribadian dipandang sebagai bagian integral sistem kulturalnya, maka sejauh mana variabel itu menjalankan pengaruh kausalitas terhadap bagian lain dari keseluruhan sistem? Untuk menjawab kedua soal ini, Kaplan dan Manners melakukan pengembaraan dengan mengupas secara panjang lebar apa itu “struktur kepribadian dasar” dan apa itu “struktur kepribadian modal”. Kaplan dan Manners merujuk karya-karya antropolog seperti Anthony Wallace yang berada dalam aras kepribadian lama hingga aliran budaya-kepribadian baru yang berfokus pada kognisi dan bahasa dan kode kognitif. Salah satu yang mungkin layak dicatat dari komentar Kaplan dan Manners mengenai antropologi kognitif ini bahwa dampak kausal faktor kepribadian hanyalah kadang-kadang saja berlakunya. Sejarah budaya lebih sering menunjukkan kebalikannya, manakala telah berlangsung perubahan budaya besar-besaran dan pesat, “tipe” kepribadian dapat cepat sekali bertransformasi (hal. 214).

Berikutnya bab keempat membahas analisis formal dalam antropologi. Pada bab empat ini, Kaplan dan Manners menjelaskan dua skema teori, yakni strukturalisme dan etnografi baru. Dalam membahas strukturalisme, Kaplan dan Manners (hal. 251) banyak mengacu Levis Strauss sebagai tokoh terkemuka dalam hal ini. Berkenaan dengan etnografi baru, Kaplan dan Manners mengemukakan bahwa sasaran etnografi baru yang diajukan sebagai dalih ialah membuat pemaparan etnografis menjadi lebih akurat dan replikabel daripada yang dianggap telah berlaku pada masa sebelumnya. Untuk itu, etnografi harus berusaha mereproduksi realitas budaya seturut pandangan, penataan, dan penghayatan warga budaya (ibid). Ini berarti, menurut Kaplan dan Manners, etnografi yang ideal harus mencakup semua aturan, kaidah dan kategori yang pasti dikenal oleh warga pribumi sendiri guna memahami dan bertindak tepat dalam berbagai situasi sosial yang dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari. Di luar itu, Kaplan dan Manners juga mendiskusikan pendekatan etik dan emik terhadap fenomena budaya.

Akhirnya, dalam bab penutup, Kaplan dan Manners mengemukakan situasi krisis yang dialami antropologi dan kecenderungan masa depan. Pada bagian akhir ini, Kaplan dan Manners mengemukakan gejala dimana budaya-budaya di dunia yang cenderung menjadi satu tipe tunggal (hal. 278)-atau paling kuat menjadi beberapa tipe budaya saja-yang berlandaskan teknologi industri. Seiring dengan itu, menurut Kaplan dan Manners, ada peningkatan ketergantungan diantara unit-unit sosial, politik dan ekonomi. Dalam hal ini, yang mereka maksudkan adalah globalisasi. Gejala ini telah menciptakan suatu tatanan dunia yang saling bergantung satu dengan lainnya (interdependence) (Keohane dan Nye, 1977) meskipun, sekali lagi, analisis atas hal itu tidak ada yang tunggal (lihat, misalnya, David Held at.al, 1999).

Komentar Kritis Isi Buku
Membaca buku Teori Budaya yang ditulis Kaplan dan Manners jelas membutuhkan suatu pembacaan yang sabar dan hati-hati-terlebih bagi para penstudi budaya pemula. Ini karena selain pembahasannya sangat padat-banyak dikemukakan konsep-konsep yang menjadi ciri khas antropologi. Bahkan, pada bagian awal buku ini, Kaplan dan Manners sendiri mengemukakan bahwa “Antropologi mengambil budaya manusia di segala waktu dan tempat sebagai bidangnya yang sah” (hal. 1). Meskipun Kaplan dan Manners tidak mengajukan klaim bahwa hanya para antropolog yang kemudian paling sah melakukan studi budaya, tapi tak pelak bahwa-dalam perkembangannya-teori budaya diidentikan dengan teori antropologi. Oleh karena itu, imajinasi kita akan sebuah teori budaya yang lengkap dan komprehensif berada dalam suasana yang kabur khususnya ketika dihadapkan dengan teori-teori antropologi. Dalam konteks ini, kita bisa bertanya apakah teori budaya sama persis atau sebangun dengan teori antropologi?

Di sisi lain, ketika Kaplan dan Manners memberikan judul buku ini Teori Budaya-judul aslinya The Theory of Culture, tapi sayangnya kita justru tidak disebutkan secara tegas teori-teori yang dimaksud. Sebaliknya, Kaplan dan Manners tampaknya lebih membahas hal-hal yang tidak secara langsung dianggap sebagai teori baik dalam kerangka teori budaya maupun teori antropologi seperti dilakukan beberapa penulis. Pembahasan Kaplan dan Manners lebih berpijak pada apa yang ia sebut sebaga orientasi teoritik. Di sini, Kaplan dan Manners membedakan antara teoritik dan orientasi teoritik sehingga, tampaknya, usahanya untuk membahas teori-teori budaya ataupun antropologi menjadi kelihatan samar-samar. Pembahasan teori dibungkus dalam kerangka orientasi teoritik sehingga mana yang disebut teori itu menjadi kurang jelas.

Pembahasan Kaplan dan Manners mengenai orientasi teoritik pada akhirnya juga menjadikannya lebih umum, dalam pengertian mencari garis besar dari teori-teori budaya. Padahal, jika kita bandingkan dengan beberapa penulis antropologi-misalnya, Saifudin (2010), maka perspektif konstelasi teori-teori antropologi relatif cukup banyak. Dengan merujuk Barret, Saifudin mengemukakan bahwa ada tujuh konstelasi teori antropologi, yakni evolusionalisme (yang dibahas dengan baik oleh Kaplan dan Manners), konflik, tindakan sosial, struktural fungsional, partikularisme-difusionisme historis, antropologi psikologi dan strukturalisme (hal. 29). Empat konstelasi diantaranya dibahas dengan baik oleh Kaplan dan Manners.

Meskipun demikian, buku teori budaya ini jelas memberikan sumbangan yang cukup bermakna bagi para penstudi budaya-utamanya bagi penstudi pemula. Meskipun Kaplan dan Manners tidak merumuskan suatu diskusi yang tajam dalam teori-teori budaya dan antropologi, tapi penjelasan yang relatif lengkap dan komplit tentang teori, paradigma, analisis dan sebagainya yang dikemukakan dengan sangat baik. Dengan begitu, para peneliti pemula yang sering dibingungkan oleh apa itu teori, konstruk, konsep, paradigma dan analisis akan sedikit tercerahkan oleh paparan Kaplan dan Manners ini.*******

Daftar Pustaka
Held, David et. al., 1999. Global Transformations: Politics, Economic, and Culture, Stanford, California: Stanford University Press

Kaplan, David dan Robert A. Manners. 2002. Teori Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Kellner, Douglas. 2010. Budaya Media: Cultural Studies, Identitas, dan Politik: Antara Modern dan Postmodern. Yogyakarta: Jalasutra

Keohane, Robert O dan Joseph S. Nye, 1977. Power and Interdependence: World Politics in Transition. Boston: Little, Brown and Company (Inc.)

Littlejohn, Stephen W. 1996. Theories of Human Communication. Australia, Canada, Meksiko, Singapore, Spain: Thomson Wadsworth.

Miller, Katherine. 2005. Communication Theories: Perspectives, Process, and Contexts. Boston: McGraw-Hill

Saifuddin, Ahmad Fedyani. 2006. Antropologi Kontemporer: Suatu Pengantar Kritis Mengenai Paradigma, Jakarta: Kencana

Thwaites, Tony; Lyoyd Davis dan Warwick Mules. 2009. Introducing Cultural and Media Studies: Sebuah Pendekatan Semiotik. Yogyakarta: Jalasutra

Dipublikasi di Kajian Media | Tag , | Tinggalkan komentar

Review Artikel: The Work of Art in the Age of Mechanical Reproduction

Oleh: Puji Rianto, S.IP*

 

“The Work of Art in the Age of Mechanical Reproduction” yang ditulis oleh Walter Benjamin pada dasarnya membahas perubahan-perubahan yang terjadi dalam kerja seni sebagai akibat kemunculan “teknologi”, baik teknologi barang cetakan ataupun teknologi eletronik, film, misalnya. Secara garis besar, perubahan atas kerja seni yang diakibatkan oleh reproduksi mekanik itu berada dalam dua aras, pertama, perubahan atas seni itu sendiri dan kedua perubahan atas khalayak. Seperti dikemukakan oleh Walter Benjamin (pp. 19), pada prinsipnya, kerja sebuah seni selalu dapat direproduksi. Seseorang yang membuat artifak dapat ditiru oleh orang lain. Replika dapat dilakukan oleh para murid-murid dalam praktik keahlian mereka, oleh seorang master yang bertujuan menyebarkan kerja mereka, dan yang terakhir adalah pihak ketiga demi meraih keuntungan. Dalam situasi semacam ini, kerja seni hampir selalu bisa direproduksi. Persoalannya kemudian bagaimana proses reproduksi itu terjadi dalam era yang disebut Walter Benjamin sebagai “mechanical production” dan apa implikasinya?

Menurut Walter Benjamin,  secara historis, perkembangan proses produksi mekanik berlangsung dalam interval yang cukup lama, tapi dengan intensitas yang semakin kuat. Penemuan teknik litografi telah membuat teknik reproduksi secara ensensial meraih tahap baru. Kemudian, teknik ini tidak lama digantikan oleh fotografi, dan kemudian film. Penemuan-penemuan ini tidak hanya memberikan ciri yang berbeda pada masing-masing tahapan, tapi berimplikasi pada cara bagaimana sebuah seni akhirnya dipahami. Selain sebuah kerja seni pada akhirnya bisa direproduksi secara massal, implikasi lain yang tidak kalah menarik adalah bagaimana “penghormatan” atas karya seni itu juga berubah. Jika pada awalnya karya seni ditujukan sebagai  “medium” pemujaan, maka pada tahap berikutnya orientasi nilai itu berubah.  Sebagaimana dikemukakan Benjamin, melalui negatif fotografi, orang bisa mereproduksi sejumlah cetakan, dan menjadi tidak masuk akal untuk menanyakan keasliannya. Dalam kaitan ini, kerja seni yang awalnya berdasar (based on) ritual, mulai berdasar pada praktik-praktik yang lain-politik (pp. 23). Di sini, menurut Benjamin, lebih jauh, kerja dari seni diterima dan dinilai dalam taraf yang berbeda, yakni yang menekankan pada nilai-nilai pemujaan (cult value); dan yang kedua adalah pameran atau pertunjukkan nilai-nilai (pp. 23).

Pertunjukkan nilai-nilai ini, sebagaimana dapat dilihat dalam pertunjukkan artistik, mempunyai konsekuensi ganda. Pertama, kamera yang menghadirkan aktor film ke publik tidak memerlukan penghormatan atas pertunjukkan itu dalam keseluruhan yang integral. Pergantian gambar yang diambil oleh kamera menjelaskan hal ini. Konsekuensi pertama ini membuat performance seorang aktor dihadirkan melalui alat kamera. Juga, aktor tidak mempunyai cukup kesempatan untuk melakukan adjust kepada khalayak (audience) selama pertunjukkan. Hal ini membuat khalayak bisa mengambil sebuah posisi kritik tanpa mempunyai pengalaman langsung melalui kontak personal.  Pada akhirnya, menurut Benjamin (pp. 29), reproduksi mekanis mengubah reaksi massa terhadap seni. Reaksi progresif atas karya lukisan Picasso bergeser ke film Chaplin. Di sini, reaksi progresif dikarakteristikan sebagai langsung, gabungan mendalam atas visual dan kenikmatan emosional dengan orientasi pada ahli (expert). Pergeseran ini pada akhirnya berujung pada gejala awal krisis lukisan karena kerja seni telah berubah dan dinikmati secara massal. Meskipun demikian, dalam catatan akhir, Benjamin (pp. 33) mengemukakan bahwa massa sebagai sebuah acuan dari keseluruhan perilaku tradisional ke arah isu-isu seni sekarang ini berada dalam bentuk-bentuk baru. Kuantitas telah diubah ke dalam kualitas.

 

————————–

*Direktur Pusat Kajian Media dan Budaya Populer

Dipublikasi di Kajian Media | Tag , | 1 Komentar

Jurnalisme Televisi Kontemporer dan Masalah-Masalahnya

Oleh: Maulinni’am*

Dimensi penting dalam perkembangan jurnalisme kontemporer, terutama jurnalisme televisi, adalah kecenderungan hyper-coverage atau pemberitaan yang berlebihan. Hyper-coverage merujuk pada fakta ketika isu besar yang melibatkan tokoh elit, selebritis terungkap, berita televisi seringkali melakukan liputan secara penuh, seakan tanpa bisa ditebak ujungnya, yang menghabiskan slot air-time dan sumber produksi.[1] Kerangka pemberitaan semacam ini sangat mungkin dilakukan dengan pertimbangan ekonomi terhadap semakin meningkatnya persaingan antarmedia, bukan semata karena kepentingan publik. Hallin (1992) mengajukan gagasan, sebagaimana dikutip Derek, bahwa tembok pembatas antara news dan televisi komersial semakin terkikis. Wartawan televisi merasakan tekanan yang sangat besar untuk juga menggunakan rating sebagai orientasi produksi program sebagaimana departemen lain di perusahaan media televisi. Hyper-coverage mungkin dilihat sebagai potensi bagi program berita televisi untuk meningkatkan rating.

Hyper-coverage juga merupakan bagian dari perubahan besar struktur narasi berita televisi. Menurut Hjarvard, berita televisi bergeser dari fungsi recapitulation (merangkum peristiwa-peristiwa penting yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari) menuju fungsi continuous updating (menyajikan suatu berita dan mengikuti perkembangan cerita secara terus menerus). Hyper coverage tidak saja terdiri dari volume (banyaknya informasi yang disampaikan pada hari-hari tertentu tetapi juga longevity (lamanya koverasi).[2] Lebih jauh lagi, kemampuan berita televisi membentuk realitas bagi audiens merupakan proses kumulatif. Robert Entman menyatakan untuk hal ini sebagai berikut:

“Reality is problematic not only because news stories inevitably select some aspects of reality and leave others out. More important, over time, the spesific realities depicted in singles stories may accumulate to form a summary message that distorts social reality”[3]

Berita televisi juga rentan terhadap bias ideologi dan bias kepentingan pemilik. Survei opini publik secara konsisten membuktikan bahwa sebagian besar warga mengakui adanya bias ideologi dalam berita televisi.[4] Sebagaimana publik di Amerika misalnya, percaya bahwa berita Fox News Channel (FNC) terlalu memihak partai konservatif dan CNN terlalu condong pada partai liberal.[5]

Berkaitan kualitas jurnalisme yang makin buruk dewasa ini, James Fallows mencatat beberapa kredo jurnalisme yang seringkali diabaikan.[6] Pertama yaitu perspektif. Pentingnya perspektif dalam berita adalah membantu pembaca/pemirsa untuk menilai apakah pesan yang disampaikan cukup penting dan mendesak untuk disikapi. Ataukah pesan di media itu hanya sekilas dan berlalu saja dari layar kaca untuk kemudian dengan mudah terabaikan, terlupakan, atau tergantikan isu yang baru.

Kedua, media seharusnya menempatkan peristiwa yang mereka beritakan dalam konteks sejarah. Selayaknya sejarah yang selalu berulang, sebagian besar peristiwa yang terjadi memiliki akar sejarahnya sendiri. Dengan memandang peristiwa kekinian melalui kacamata sejarah, media diharapkan mampu memberikan pencerahan atas apa yang terjadi di masa lalu dan menawarkan apa yang mungkin bisa terjadi. Jika media gagal menempatkan konteks historis suatu peristiwa, sangat mungkin berita media justru menyesatkan pemirsa.

Kredo ketiga yang dibutuhkan dalam memberitakan peristiwa adalah perbandingan situasi. Dalam artian berita seharusnya menunjukkan persamaan dan perbedaan dari peristiwa-peristiwa. Dengan begitu membantu pemirsa untuk bisa mencermati pola atau hubungan penting antarperistiwa yang muncul di media, bukan hanya kontestasi isu yang muncul silih berganti di layar televisi. Terakhir, wartawan seringkali lupa bahwa tugas mereka adalah memberi informasi yang berguna bagi kehidupan audiens baik sebagai individu maupun warga negara.

1. Breaking News

Salah satu perubahan terbesar dalam jurnalisme televisi dekade terakhir ini adalah fasilitas siaran berita secara langsung, segera, dan terus menerus oleh saluran televisi berita. Ada bermacam istilah untuk merujuk pada jenis laporan jurnalistik ini antara lain breaking news, live report, stop press, atau special report.

Breaking news merujuk pada liputan peristiwa yang sedang berlangsung, masih akan berkembang, atau mencengangkan.[7] Informasi disampaikan dengan bahasa yang menekankan pada sesuatu yang bersifat mendesak. Liputan diperkuat dengan video real-time, sepaket gambar, dan musik yang dramatis. Penonton menyadari acara lain dipotong di tengah hanya untuk menyiarkan breaking news, berarti bahwa informasi yang disiarkan lebih bernilai. Seringkali reporter melaporkan langsung dari tempat kejadian dan tidak menggunakan naskah berita. Penyiar juga berharap terjadi peristiwa yang memantik rasa ingin tahu penonton untuk mencari informasi tambahan.[8] Peristiwa yang dilaporkan biasanya kejadian yang jarang terjadi, tidak diduga sebelumnya seperti kecelakaan pesawat. Bisa juga peristiwa yang sudah direncanakan tetapi memiliki nilai urgensi, atau unsur luar biasa yang menarik perhatian publik misal pemecahan rekor, acara kenegaraan, atau persidangan kasus besar.

Breaking news, yang sebenarnya perkembangan dari format news bulletin, merupakan program berita di luar yang sudah terjadwal. Mulanya hanya digunakan untuk berita yang sangat penting, sehingga punya legitimasi untuk menginterupsi program acara yang sedang berlangsung kapan pun. Tetapi kemudian digunakan oleh stasiun televisi sebagai strategi pasar untuk menunjukkan eksklusivitas pemberitaan. Meskipun tidak semua audiens sepakat tentang tingkat urgensi, signifikansi, dan kepentingan yang menjadikan berita itu pantas disebut eksklusif.

Ini juga yang menjadi perdebatan seru di kalangan pemerhati media, sosial, maupun politik bahwa kebohongan (informasi) bisa dengan cepat tersebar. Sementara untuk meralat dengan infomasi yang benar tidaklah mudah dan serta merta mengubah persepsi audiens yang sudah terlanjur mendapat informasi yang bohong tersebut. Bisa jadi ketika ralat informasi disampaikan, audiens sedang tidak menonton televisi. Kalau pun audiens sempat menonton ralat informasi, justru akan menimbulkan kecurigaan terhadap kepentingan yang mungkin ada di balik ralat informasi tersebut. Jika memang tak ada kepentingan lain di balik berita yang diralat, kredibilitas televisi tersebut sebagai sumber informasi terpercaya akan turun di mata audiens.

Dilihat dari durasinya, breaking news biasanya hanya singkat saja, tak lebih dari 3 menit. Tapi jika informasi yang diberitakan dirasa sangat penting, breaking news bisa berlangsung puluhan menit hingga berjam-jam. Misalnya siaran pers dari Presiden, sidang komisi DPR, bencana alam, atau sidang pengadilan koruptor kelas kakap. Jika liputan berlangsung lama, redaksi akan menyiapkan presenter di studio untuk memandu acara dan menyajikan analisis terhadap isu yang diliput. Analisis bisa dilakukan dengan menghadirkan narasumber di studio, via telpon, atau siaran langsung dari beberapa reporter di lokasi yang berbeda.

Informasi yang disajikan dalam breaking news seringkali kurang lengkap, serta tidak mendetail. Biasanya ini disebabkan keterbatasan informasi yang didapat ketika pertama kali tiba di lokasi dan dorongan untuk menjadi yang pertama memberitakan. Tetapi rupanya tidak semata karena minimnya informasi yang tersedia, tetapi lebih karena malas menggali data lebih dalam. Celakanya, berita instan dengan informasi penuh sensasi, dan tanpa kedalaman ala infotainment sudah menjangkiti, untuk tidak mengatakan menjadi ciri khas, jurnalisme televisi.[9]

Dalam buku If It Bleeds It Leads: An Anatomy of Television News, Matthew R. Kerbel memberikan resepnya dalam menulis berita yang mampu menyedot perhatian khalayak.[10] Pertama-tama, seorang penulis berita harus mampu menemukan sisi emosional dari peristiwa. Sisi emosi ini harus sesuatu yang bisa memancing rasa prihatin, belas kasihan, ketakutan, ketidakpastian, dan ketidakpuasan. Misalnya isu keselamatan alat transportasi udara atau teror bom yang marak terjadi tanpa bisa diprediksi. Langkah kedua, lengkapi cerita dengan visual yang memperkuat sensasi emosi tersebut.

Berita yang disajikan secara dramatis atau sensasional bukannya tanpa efek samping. Michael A. Milburn dan Anne B. McGrail melakukan percobaan kepada audiens dengan memperlihatkan potongan-potongan berita televisi yang dramatis. Potongan berita tersebut diedit untuk menghilangkan scene yang sangat dianggap sangat dramatis. Hasilnya cukup mengejutkan. Ternyata semakin dramatis berita disajikan semakin berkurang daya ingat audiens terhadap isi berita dan semakin berkurang kompleksitas pikiran audiens terhadap informasi yang disampaikan.[11]

Penggunaan drama dalam berita televisi memiliki 2 aspek penting, membangkitkan aspek emosi dan penggunaan mitos sebagai dasar. Keduanya turut andil dalam pengerdilan isu. Alasannya, drama bekerja dengan memberikan sensasi bagi penontonnya. Sensasi itu melibatkan pengalaman audiens, di mana titik tekannya pada perasaan bukan pada logika. Sedangkan mitos memandu penonton dalam memahami alur cerita, termasuk penyelesaian dari berbagai persoalan yang dipertontonkan.[12]

2. Siaran Langsung: Beragam Perspektif atau Realita Berlipat Ganda

Teknologi digital sekarang ini semakin mudah digunakan untuk meliput berita. Kemudahan teknologi turut mengubah beberapa praktek reportase. Bahkan Huffaker meyakini bahwa perkembangan teknologi tidak saja mengubah bentuk siaran berita langsung, tetapi juga merendahkan. Berita televisi sekarang ini sangat mudah memutuskan untuk menyiarkan peristiwa secara langsung, meskipun kejadian sebenarnya sudah lama berlalu. Kalau dulu wartawan hanya akan berada di lokasi kejadian karena suatu alasan dan akan segera beranjak jika sudah tidak ada lagi yang dilaporkan. Daripada membuang-buang waktu di suatu tempat dengan melakukan siaran langsung terus-terusan, lebih baik wartawan pergi ke tempat yang memiliki sesuatu yang bernilai untuk diliput. “We reported on the spot if events were urgent, and when they were over, we hurried in with film to develop and stories to write.”[13]

Benar bahwa teknologi sudah semakin canggih dan sangat mungkin untuk melakukan liputan secara langsung peristiwa-peristiwa yang berlangsung sedemikian cepat dan tak bisa diprediksi. Tapi bukan berarti bahwa semua peristiwa layak disiarkan secara langsung. Kecepatan dan kemampuan mengkover peristiwa yang terus berkembang cepat hanyalah sekian dari beberapa kelebihan dari siaran langsung. Kita perlu memahami siaran langsung lebih mendalam, mungkin secara filosofis.

Hemmingway meminjam pisau analisis Mol untuk membedah anatomi berita televisi. Mol menjelaskan perbedaan penting antara apa yang ia sebut perspectivalism di satu sisi dan ‘multiple, fragmented realities’ di lain sisi. Dua konsep tersebut adalah fondasi yang melekat dalam realitas berita yang disiarkan tiap hari. Perspectivalisme melihat bahwa tiap berita adalah salah satu versi dari satu kebenaran. Berita-berita di televisi adalah sekumpulan perspektif yang beragam dalam melihat satu realitas. Dengan begitu audiens mendapatkan pemahaman yang kaya tentang suatu peristiwa. Sedangkan siaran langsung yang berlangsung secara terus menerus pada dasarnya terdiri dari beberapa realitas. Karena peristiwa selalu berkembang, baik cerita maupun aktornya. Mol menjelaskan sebagai berikut:

In performance stories, fleshiness, opacity and weight are not attributes of a single object with an essence that hides. Nor is it the role of tools to lay them bare as if they were so many aspects of a single reality. Instead of attributes or aspects, they are different versions of the object, different versions that the tools help to enact. They are different and yet related objects. They are multiple forms of reality. Itself.[14]

Dengan kata lain, terpaan multi-realitas melalui siaran langsung yang seringkali gagal dalam mengambil posisi perspektif yang tegas akan mempengaruhi pemahaman audiens terhadap realitas sebenarnya.

Referensi

[1] Derek H. Alderman. TV News Hyper-Coverage and The Representation of Place: Observations on the O.J. Simpson Case. Geografiska Annaler. Vol. 79, No. 2 (1997)

[2] Ibid, h. 86

[3] Robert M. Entman. 1994. Representation and Reality in The Portrayal of Blacks on Network Television News. dalam Derek H. Alderman, TV News Hyper-Coverage and The Representation of Place: Observations on the O.J. Simpson Case. Geografiska Annaler. Vol. 79, No. 2 (1997), h. 86

[4] Survey-survey tersebut dilakukan oleh American Society of Newspaper Editors (1999), Gallup Organization (2003), dan Pew Research Center (2005) dalam Joel Turner, The Messenger Overwhelming the Message: Ideological Cues and Perceptions of Bias in Television News. Polit Behav (2007) 29:441–464 diakses melalui publikasi online Springer dengan DOI 10.1007/s11109-007-9031-z

[5] Ibid, h. 442.

[6] Doris A. Graber. “Breaking the News: A Review Essay.” Political Science Quarterly. (Vol. 111, No. 4, Winter, 1996-1997), h. 691-692, tersimpan dalam http://www.jstor.org/stable/2152090 diakses pada 26/01/2011

[7] Tony Rogers. “Breaking News” Journalism. Tersimpan di http://journalism.about.com/od/journalismglossary/g/breakingnews.htm diakses pada 21 Jan 2011 08:52

[8] William Joe Watson, Cognitive Effect of Breaking News: Establishing a Media Frame to Test Audience Prime, disertasi pada College of Communication & Information Kent State University, Desember 2005, h. 1.

[9] Doris A. Graber. “Breaking the News: A Review Essay.” Political Science Quarterly. (Vol. 111, No. 4, Winter, 1996-1997), h. 690, tersimpan dalam http://www.jstor.org/stable/2152090 diakses pada 26/01/2011

[10] Matthew R. Kerbel, If It Bleeds, It Leads: An Anatomy of Television News. Oxford: Westview Press. 2001.

[11] Michael A. Milburn and Anne B. McGrail, “The Dramatic Presentation of News and Its Effects on Cognitive Complexity.” Political Psychology, Vol. 13, No. 4 (Dec., 1992), h. 613 tersimpan dalam http://www.jstor.org/stable/3791493 diakses pada 26/01/2011 22:44

[12] Ibid, h. 615.

[13] Huffaker et al. 2004. When the News Went Live. Dalam Emma Hemmingway, Into The Newsroom. Oxon: Routledge, 2008, h. 143.

[14] A. Mol (2002), The Body Multiple: Ontology in Medical Practice dalam Emma Hemmingway. Into The Newsroom. Oxon: Routledge, 2008, h. 145

——————————————

*Asisten Peneliti Pusat Kajian Media dan Budaya Populer. Saat ini sedang menuntaskan studinya di Jurusan Komunikasi UGM dengan skripsi berjudul “Siaran Langsung Persidangan dan Etika Media: studi kasus siaran langsung sidang perdana Antasari Azhar pada 8 Oktober 2009 oleh Metro TV dan TV One”

Dipublikasi di Kajian Media | 1 Komentar

Berkomunikasi pada Saat Bencana

Berkomunikasi di dalam bencana perlu diperhatikan oleh kita semua sebab penanganan langsung yang baik tidak akan berguna juga proses komunikasi antarpihak tidak ditata dengan baik pula. Proses komunikasi yang baik juga akan membuat penanganan bencana akan lebih mudah. Begitu pula sebaliknya. Proses komunikasi tersebut dilakukan oleh beberapa pihak, yaitu pihak yang berwenang, dalam hal ini pemerintah, media, dan masyarakat.

Di dalam situasi bencana sendiri paling tidak terdapat dua karakter komunikasi. Pertama, di dalam bencana informasi yang benar dan akurat sangatlah diperlukan bagi masyarakat. Pihak yang berwenang mesti memberikan informasi yang benar dan secara periodik karena informasi mengenai bencana memang diperlukan oleh masyarakat, apalagi masyarakat yang terkena imbas dari bencana tersebut. Karena pihak berwenang tidak mungkin menjangkau banyak audiens dalam waktu yang cepat maka diperlukan media untuk membantu distribusi informasi tersebut. Dengan demikian media seharusnya memberikan informasi yang benar dan tepat pula, serta tentunya disertai informasi tambahan yang relevan dan analisis yang memperkaya pemahaman kita.

Hal inilah yang kurang dipenuhi oleh media, terutama televisi, pada masa awal erupsi Merapi. Reporter yang tidak bisa membedakan awan panas dan abu vulkanik membuat masyarakat panik adalah salah satu kelemahan media, padahal informasi tersebut adalah informasi yang sifatnya elementer. Media semestinya membekali wartawannya dengan pengetahuan yang memadai tentang kebencanaan dan kecakapan jurnalistik yang baik.

Karakter kedua dari berkomunikasi di dalam bencana adalah muatan emosi yang tinggi. Berbagai pihak semestinya memberikan informasi atau pesan komunikasi yang menciptakan kondisi yang lebih baik. Bencana telah membuat kita terterpa kesedihan, janganlah kesedihan tersebut ditambahi oleh berbagai pernyataan tidak simpatik. Salah satu contoh pernyataan tidak simpatik tersebut disampaikan oleh seorang wakil rakyat untuk bencana di Mentawai. Pernyataan bahwa bencana tsunami adalah risiko bagi warga masyarakat yang tinggal di sana sangatlah tidak tepat dan menimbulkan kesedihan baru bagi kita semua.

Belum lagi tindakan beberapa wakil rakyat yang tetap pergi untuk studi banding ke luar negeri pada saat bencana terjadi. Pergi untuk studi banding itu adalah pesan yang negatif dalam proses komunikasi di mana seharusnya para “petinggi”negeri ini berempati pada masyarakat yang menderita karena bencana.

Di dalam situasi bencana juga tidak etis mengharap pamrih secara eksplisit alias tidak tulus karena proses komunikasi di dalam bencana bermuatan emosi yang tinggi. Beberapa kasus pemasangan bendera partai politik, korporasi, dan produk di area bencana Merapi jelas merupakan tindakan tak etis. Sampai-sampai ada yang memberi julukan “festival” karena begitu meriahnya suasana di area bencana. Bila mau membantu sebaiknya ya membantu saja tanpa memikirkan ‘balasan’, apalagi bila pamrih tersebut secara jelas diungkapkan. Di dalam bencana, kepentingan sosial adalah kepentingan yang seharusnya paling dikedepankan, bukan kepentingan politis atau kepentingan mencari profit. Lalu, bagaimana sebaiknya berkomunikasi pada saat bencana?

Pada prinsipnya, semua pihak berkomunikasi dengan bijak pada saat bencana. Media berusaha sebaik mungkin memberikan informasi yang benar dan akurat, para tokoh publik memberikan pernyataan yang konstruktif bukannya malah memperkeruh suasana, dan kita sebagai bagian masyarakat membantu sekuat dan sebisa mungkin, sesuai dengan kemampuan kita dengan saling membagi informasi untuk penanganan bencana. Semua anggota masyarakat mesti berpikir dan bertindak atas dasar kemanusiaan bahwa bencana yang menimpa saudara-saudara kita setanah air adalah nestapa kita juga.

Inilah esensi hidup berbangsa dan bernegara bahwa kita saling membantu dan menguatkan di kala sedang menderita dan saling memberi inspirasi di saat sedang berbahagia. Bukankah tujuan dari kita berkomunikasi adalah menempatkan diri kita pada titik kemanusiaan tertinggi, saling menghargai sesama manusia tanpa sekat-sekat pembeda? q – k. (1967-2010).

*) Wisnu Martha Adiputra, Dosen di Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada.

Tulisan ini dimuat dalam harian Kedaulatan Rakyat edisi Sabtu, 13 Nov 2010. terarsip dalam http://www.kr.co.id/web/detail.php?sid=229055&actmenu=39

Dipublikasi di Kajian Media | Tag , | Tinggalkan komentar